Dadiah dan Peluang Besar Wisata Gastronomi dari Ranah Minang

1 hour ago 4
GAGASAN

Ilustrasi sajian Dadiah: Yogurt nya Ranah Minang

METRO, PADANG – Sumatera Barat memiliki kekayaan kuliner tradisional yang tidak hanya menyimpan cita rasa khas, tetapi juga jejak panjang peradaban budaya masyarakat Minangkabau.

Salah satu di antaranya ialah Dadiah, pangan fermentasi berbahan susu kerba sebagai potensi wisata gastronomi khas Ranah Minang.

Rencana penyelenggaraan Wonderful Indonesia Gastronomi di Sumatera Barat pada 2027 dinilai menjadi peluang penting untuk kembali memperkenalkan kekayaan kuliner tradisional Minangkabau kepada wisatawan.

Selain rendang, sejumlah kuliner khas berbasis tradisi lokal seperti dadiah dinilai memiliki daya tarik kuat dalam pengembangan wisata budaya dan gastronomi.

Banyak anak muda Minang hari ini mengenal yogurt sebagai pangan sehat modern. Namun sedikit yang tahu, leluhur mereka telah lama memiliki pangan fermentasi alami bernama dadiah.

Di tengah tren pariwisata berbasis pengalaman budaya dan kuliner autentik, dadiah dinilai memiliki daya tarik kuat karena proses pengolahannya yang masih mempertahankan cara-cara tradisional. Susu kerbau murni difermentasi secara alami di dalam ruas bambu yang ditutup daun pisang tanpa tambahan bahan kimia maupun pengawet.

Kuliner khas Minangkabau itu diyakini telah hadir sejak ratusan bahkan ribuan tahun lalu dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Awalnya, susu kerbau segar yang disimpan di dalam bambu mengalami proses pengentalan alami hingga menghasilkan tekstur lembut dengan cita rasa khas yang kemudian dikenal sebagai dadiah.

Dalam sejarah budaya Minangkabau, dadiah tidak hanya dikonsumsi sebagai makanan harian, tetapi juga digunakan sebagai lauk, minuman penambah stamina bagi orang tua, hingga asupan bergizi untuk bayi. Dadiah bahkan menjadi bagian dari sajian penting yang merepresentasikan hubungan masyarakat dengan alam dan peternakan kerbau.

Keunikan proses fermentasi tradisional tersebut menjadi nilai tersendiri dalam konsep wisata gastronomi modern. Saat ini, wisatawan tidak hanya mencari makanan khas, tetapi juga pengalaman budaya, cerita lokal, hingga proses pengolahan tradisional yang autentik. Dadiah dinilai memenuhi unsur tersebut karena diproduksi menggunakan metode alami yang diwariskan lintas generasi.

Perkembangan sajian dadiah juga melahirkan berbagai variasi kuliner tradisional. Salah satu yang paling dikenal ialah Ampiang Dadiah, perpaduan dadiah dengan emping ketan, kelapa parut dan gula aren yang menjadi salah satu kuliner legendaris Minangkabau.

Namun di balik potensinya sebagai daya tarik wisata budaya, keberadaan dadiah kini mulai menghadapi tantangan. Produksinya semakin terbatas akibat berkurangnya populasi kerbau perah serta semakin sedikit masyarakat yang masih mempertahankan tradisi pengolahan tersebut.

Kondisi itu membuat dadiah perlahan mulai sulit ditemukan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Minangkabau. Padahal, pangan fermentasi tradisional tersebut dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai identitas wisata gastronomi Sumbar, mulai dari wisata kuliner, desa wisata, hingga pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.

Di tengah berkembangnya konsep quality tourism, kehadiran dadiah dinilai dapat menjadi salah satu simbol wisata autentik Minangkabau yang menggabungkan tradisi, pangan lokal, dan pengalaman budaya dalam satu sajian khas Ranah Minang. ***

Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |