Akui Lalai, Sutradara Perfect Crown Klarifikasi sampai Nangis

3 hours ago 6

CNN Indonesia

Rabu, 20 Mei 2026 17:00 WIB

Sutradara Park Joon-hwa meminta maaf sekaligus memberikan klarifikasi emosional atas kontroversi sejarah dalam Perfect Crown. Sutradara Park Joon-hwa meminta maaf sekaligus memberikan klarifikasi emosional atas kontroversi sejarah dalam Perfect Crown. (MBC)

Jakarta, CNN Indonesia --

Sutradara Park Joon-hwa meminta maaf sekaligus menegaskan kekeliruan terkait akurasi sejarah dalam adegan penobatan di Perfect Crown adalah murni "kelalaian imajinasi," bukan kesengajaan untuk mendistorsi sejarah.

Dalam wawancara seperti diberitakan Korea JoongAng Daily pada Rabu (20/5), Park Joon-hwa beberapa kali tampak emosional hingga menitikkan air mata demi meluruskan polemik yang telanjur menggelinding panas sejak drama tersebut berakhir Sabtu (16/5) lalu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Park menyatakan bahwa dirinya siap pasang badan dan menanggung seluruh konsekuensi dari kelalaian tersebut secara jantan.

"Dari awal hingga akhir, saya lah yang bertanggung jawab penuh atas apa yang ada di dalam drama ini," ujar Park Joon-hwa.

Ia menambahkan bahwa dirinya merasa harus menghadapi dan meluruskan langsung berbagai kritik yang muncul ke permukaan akibat ketidakmampuannya dalam mengawal detail estetika produksi.

Kontroversi ini sendiri bermula dari penayangan episode 11 pada Jumat pekan lalu, di mana karakter Grand Prince I-An (Byeon Woo-seok) naik takhta mengenakan mahkota dengan sembilan untaian manik-manik, sementara para abdi istana meneriakkan kata "Cheonse!"

[Gambas:Video CNN]

Detail ini memicu kemarahan publik Korea karena secara historis, mahkota sembilan untaian dan seruan "Cheonse" menandakan status wilayah bawahan atau dinasti yang tunduk pada kekaisaran lain, seperti era Joseon sebelum merdeka.

Seharusnya, untuk menggambarkan Korea sebagai monarki berdaulat penuh dalam dunia fiksi tersebut, sang penguasa mengenakan mahkota 12 untaian (sibi myeollyugwan) seperti yang dipakai Raja Gojong saat mendeklarasikan Kekaisaran Korea pada 1897, dengan seruan takhta berupa "Manse!"

Kritik juga diberikan untuk adegan minum teh oleh Seong Hui-ju (IU) yang dianggap meniru tata cara minum teh China.

Menanggapi hal tersebut, sutradara menjelaskan bahwa kesalahan ini lahir dari dirinya yang kaku dalam memandang konsep sejarah alternatif yang diusung drama tersebut.

Latar Perfect Crown sebenarnya dibangun dari fantasi fiksi tentang bagaimana indahnya Korea jika masa-masa kelam seperti penjajahan Jepang (1910-1945) dan Perang Korea (1950-1953) tidak pernah terjadi.

"Apa yang ingin disampaikan oleh penulis kami, saya pikir, adalah-jika masa lalu bangsa kita yang menyakitkan, termasuk Perang Korea dan periode di bawah masa penjajahan Jepang, jika itu semua tidak terjadi, tidakkah kita bisa tiba pada gambaran yang lebih bahagia dan indah?" papar Park.

"Cerita ini dimulai dari fantasi itu. Jadi, konsultasi dan referensi yang kami gunakan seluruhnya dikalibrasi pada aturan istana Joseon."

Ia mengakui terlalu terpaku pada arahan para konsultan sejarah mengenai bentuk penobatan era Joseon kuno yang memang menggunakan mahkota sembilan untaian, hingga alpa merefleksikan eksistensi Kekaisaran Korea yang berdaulat sebagai jembatan masa depan yang bahagia itu.

Ketika didesak mengenai detail skrip, Park mengklarifikasi bahwa seruan "Cheonse" memang ditulis oleh penulis skenario pemula, Yoo Ji-won. Namun, detail mahkota sembilan untaian tidak tertulis secara eksplisit dalam naskah.

Hal itu murni karena keterbatasan waktu produksi sekitar satu bulan untuk menyiapkan kostum dan properti seni, sehingga tim produksi cenderung mereplikasi properti dari proyek-proyek drama terdahulu yang memiliki adegan serupa.

Sebelum sutradara, tim produksi sendiri telah melayangkan permohonan maaf tertulis, diikuti surat permintaan maaf terbuka dari dua pemeran utama, IU dan Byeon Woo-seok, pada Senin (18/5).

Menurut keterangan sutradara, penulis naskah Yoo Ji-won juga berencana untuk segera merilis pernyataan pribadinya secara terpisah dalam waktu dekat.

Park Joon-hwa juga mengaku menyayangkan hal ini karena Perfect Crown mencetak rating di atas 13 persen dan menjadi judul drama Korea global yang paling banyak ditonton di platform Disney+ dalam 28 hari pertama perilisannya.

Sementara itu, menyusul berakhirnya polemik panjang ini, Park Joon-hwa yang sebelumnya dikenal lewat Alchemy of Souls dan Because This is My First Life ini menyatakan belum memiliki rencana mengambil proyek drama baru.

(chri)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |