CNN Indonesia
Sabtu, 25 Apr 2026 16:15 WIB
Ilustrasi. Gaya hidup soft living bukan tentang menambah cara baru, tapi meminimalkan apa yang sudah sering dilakukan. (iStock/Adene Sanchez)
Jakarta, CNN Indonesia --
Belakangan, istilah soft living makin sering muncul di media sosial. Gaya hidup yang lebih pelan, tenang, dan minim tekanan ini terdengar menarik, terutama di tengah rutinitas yang serba cepat.
Namun di sisi lain, tak sedikit orang justru merasa konsep ini menjadi beban baru. Keharusan memiliki morning routine, journaling, meditasi, hingga hidup seimbang, terasa seperti daftar tugas tambahan yang melelahkan.
Padahal, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa hidup yang terasa lebih ringan bukan soal menambah kebiasaan baru, melainkan mengurangi hal-hal kecil yang diam-diam menguras energi sehari-hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan, melansir berbagai sumber:
1. Kurangi distraksi kecil
Banyak orang merasa tidak punya waktu. Namun, masalahnya sering bukan pada jumlah waktu, melainkan bagaimana waktu itu terpecah-pecah sepanjang hari.
Studi dalam jurnal Happiness Studies menunjukkan bahwa rasa kekurangan waktu (time poverty) lebih dipengaruhi oleh waktu yang terfragmentasi, kebiasaan multitasking, dan minimnya waktu luang yang benar-benar terasa milik sendiri.
Bukan karena terlalu sibuk, tetapi karena hari terasa tidak utuh. Kondisi ini sering muncul dari hal-hal kecil, seperti:
• sering membuka chat di sela kerja
• berpindah-pindah tugas tanpa selesai
• mengisi semua jeda dengan distraksi
Alih-alih menambah rutinitas baru, cara paling realistis adalah mengurangi 'kebocoran' ini. Misalnya, membatasi waktu membuka chat kerja atau menggabungkan tugas kecil dalam satu waktu. Langkah sederhana seperti ini justru memberi dampak nyata.
2. Tetapkan satu batas yang jelas dan realistis
Keinginan hidup lebih santai sering gagal karena tujuannya terlalu abstrak, seperti ingin lebih balance atau lebih tenang.
Penelitian dari International Journal of Workplace Health Management menemukan bahwa kemampuan mengatur batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi berkaitan dengan meningkatnya keseimbangan hidup dan kesejahteraan.
Mulailah dari satu batas yang konkret dan realistis, misalnya:
• tidak membalas chat kerja setelah jam tertentu
• tidak membuka email di hari libur
• memberi jeda tanpa layar setelah pulang kerja
3. Sisipkan jeda kecil di tengah aktivitas
Banyak orang baru benar-benar beristirahat saat akhir pekan atau cuti. Padahal, energi akan lebih stabil jika ada jeda di tengah aktivitas harian.
Micro-break, atau istirahat singkat kurang dari 10 menit, terbukti dapat membantu meningkatkan kesejahteraan dan menjaga performa. Studi juga menunjukkan bahwa pekerja yang sering melewatkan waktu istirahat cenderung lebih mudah mengalami kelelahan fisik dan mental.
Tidak perlu menunggu libur panjang, jeda singkat pun cukup, seperti:
• berhenti sejenak setelah menyelesaikan tugas berat
• berjalan sebentar atau melihat sekitar
• benar-benar fokus beristirahat saat makan
4. Tetap fleksibel, bukan harus selalu tenang
Soft living kerap disalahartikan sebagai hidup yang harus selalu tenang dan bebas stres. Padahal, hal ini tidak realistis.
Penelitian di Scientific Reports menunjukkan bahwa yang lebih penting adalah psychological flexibility, yakni kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan kondisi tanpa merasa kewalahan.
Orang yang fleksibel secara mental cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih baik, meski tetap menghadapi tekanan.
Dalam praktiknya, ini bisa berarti:
• menurunkan target saat sedang lelah
• memilih prioritas saat waktu terbatas
• menunda keputusan saat emosi tidak stabil
Intinya, bukan menghilangkan tekanan sepenuhnya, melainkan tahu kapan harus menyesuaikan diri.
5. Ubah cara mengelola energi, bukan sekadar gaya hidup
Soft living bukan soal rutinitas estetik atau hidup yang selalu santai. Hidup akan terasa lebih ringan ketika waktu tidak terus terpecah, ada batas yang jelas, tubuh memiliki jeda, dan pikiran tidak dipaksa terus optimal.
Sering kali, yang membuat hidup terasa berat bukanlah pekerjaan besar, melainkan hal-hal kecil yang terus menumpuk. Karena itu, cara paling realistis untuk hidup lebih 'soft' bukan dengan menambah banyak hal, tetapi berani mengurangi yang tidak perlu.
(anm/tis)
Add
as a preferred source on Google

3 hours ago
8
















































