SURAT DARI RANTAU
Faqih Jalaludin | CNN Indonesia
Minggu, 01 Mar 2026 12:10 WIB
Suasana salat tarawih di Masjid Mohamed Bolkiah, Kampung Serusop, Brunei Darussalam saat bulan Ramadan tahun ini.(Arsip Faqih Jalaludin)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sudah lebih dari seperempat abad waktu berjalan sejak saya pertama kali menginjakkan kaki di tanah Brunei Darussalam. Sejak tahun 1999, Brunei telah menjadi rumah kedua bagi saya, istri, dan ketiga anak kamu yang semuanya lahir di sini.
Sebagai seorang guru sekolah rendah (setara Sekolah Dasar), saya menyaksikan bagaimana waktu bergerak dengan tenang di sini. Hampir tidak ada motor, pun nyaris tak ada angkutan umum yang berjejalan di jalan. Semua orang di sini melaju perlahan dengan mobilnya masing-masing, mematuhi aturan tanpa perlu diawasi ketat.
Namun, suasana yang tenang itu akan berubah menjadi hangat dan hidup ketika hilal Ramadan menampakkan diri. Di Brunei, kegiatan Sahur Sahur adalah momen privat di rumah, atau momen sakral di masjid.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sini, jangan coba-coba makan atau minum di tempat umum saat siang hari. Aturan hukum Syariah di sini sangat ketat. Restoran hanya boleh melayani pesanan takeaway atau "tapau" setelah pukul tiga sore.
Jika nekat makan di tempat umum, denda puluhan juta rupiah menanti, baik bagi si pemakan maupun pemilik restoran. Ketegasan inilah yang menurut saya menciptakan rasa hormat dan tertib yang luar biasa.
Di setiap masjid, sepanjang bulan suci, tersedia hidangan buka puasa untuk siapa saja. Tak peduli Anda orang lokal, perantau Indonesia seperti saya, pekerja India, atau Bangladesh, semua duduk bersama di bawah kemah yang disusun rapi 15 menit sebelum azan Magrib berkumandang.
Sepuluh malam terakhir Ramadan adalah puncak kemeriahan spiritual kami. Bayangkan, pukul tiga pagi, alih-alih bersiap di meja makan rumah, banyak warga justru berbondong-bondong menuju masjid untuk qiyamullail. Di sana, pemerintah Brunei menyediakan sahur gratis dan fasilitas ibadah yang mumpuni.
Lebaran yang Berumur Satu Bulan
Agak berbeda dengan di Indonesia, di Brunei, Lebaran berlangsung selama satu bulan. Syawal adalah perayaan maraton. Kami merayakan Idulfitri selama satu bulan penuh!
Setiap rumah akan mengadakan open house secara bergantian sepanjang bulan Syawal. Anak-anak saya sangat betah di sini karena alasan itu. Mereka bisa berkeliling dari satu rumah ke rumah lainnya, menyantap rendang, sate, dan tentu saja lemang, pengganti ketupat yang menjadi primadona di meja makan orang Melayu Brunei.
Namun, momen yang paling dinanti oleh setiap perantau dan warga lokal adalah hari raya kedua dan ketiga. Pintu Istana Nurul Iman akan terbuka lebar bagi siapa saja. Puluhan ribu orang mengantre, bukan hanya untuk menikmati jamuan istana yang mewah, tetapi untuk satu tujuan sakral: bersalaman langsung dengan Sultan Hassanal Bolkiah.

3 hours ago
2















































