Tiara Sutari | CNN Indonesia
Minggu, 15 Feb 2026 08:00 WIB
Mengunjungi Museum yang merupakan rumah milik Jim Thompson di Bangkok. (istockphoto/Eloi_Omella)
Jakarta, CNN Indonesia --
Di tengah hiruk-pikuk pusat perbelanjaan dan kemacetan khas ibu kota Thailand, berdiri sebuah oase yang tenang dan penuh cerita, Jim Thompson House.
Berada di kawasan Pathum Wan, tak jauh dari Siam Paragon dan Bangkok Art and Culture Centre, rumah kayu jati ini menyimpan kisah tentang sutra, seni, dan sebuah misteri yang belum terpecahkan hingga hari ini.
Bagi pencinta produk sutra Jim Thompson, dari syal, selendang, hingga tas dengan warna-warna bak batu permata, kunjungan ke rumah ini terasa seperti menelusuri bab awal dari sebuah kisah besar. Di sinilah semua bermula.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jim Thompson lahir pada 1906 dari keluarga pengusaha tekstil di Amerika Serikat. Ia menempuh pendidikan di Princeton University dan bahkan pernah mewakili negaranya dalam cabang layar pada 1928 Summer Olympics.
Kariernya sempat berbelok ketika ia bergabung dengan militer Amerika Serikat pada Perang Dunia II. Penugasannya membawanya hingga ke Thailand.
Di negeri inilah, selepas perang usai, Thompson melihat peluang yang tak banyak dilirik orang, sutra tradisional Thailand yang nyaris punah.
Pada 1947, ia mengirim kain sutra tenun tangan berwarna cerah ke rumah mode dan editor ternama di New York, termasuk editor Vogue saat itu, Edna Woolman Chase. Pesanan berdatangan. Industri sutra Thailand yang hampir mati pun bangkit kembali.
Bersama mitranya, ia mendirikan Thai Silk Company Limited dan memperkenalkan kombinasi warna dramatis yang kini menjadi ciri khas. Lebih dari sekadar bisnis, model produksi rumahan yang ia dorong membuka lapangan kerja bagi ribuan perempuan Thailand, memungkinkan mereka menenun dari rumah.
Namun, kisahnya tak berakhir manis. Pada 1967, di puncak kesuksesan, Thompson menghilang saat berjalan-jalan di Cameron Highlands, Malaysia. Ia tak pernah ditemukan.
Hingga kini, kepergiannya menjadi salah satu misteri terbesar di kawasan Asia Tenggara.
Rumah di Tepi Klong
Rumah yang kini menjadi museum ini kerap dijuluki The House on the Klong. Klong berarti kanal dalam bahasa Thai. Bangunannya memang berdiri di tepi kanal kecil, menghadap area yang dahulu menjadi tempat para penenun bekerja.
Kompleks ini terdiri dari enam rumah kayu jati tradisional yang dipindahkan dari berbagai wilayah Thailand, termasuk Ayutthaya dan Bangkrua.
Rumah-rumah itu dibongkar di lokasi asalnya, lalu dirakit kembali di Bangkok, tanpa menggunakan paku. Seluruh struktur ditinggikan di atas panggung, sesuai tradisi rumah Thai.
Sebelum naik ke lantai atas, pengunjung wajib melepas sepatu. Tangga kayu membawa pengunjung ke ruang tamu yang dahulu merupakan rumah penenun dari Bangkrua.
Interiornya dipenuhi koleksi pribadi Thompson. Mulai dari patung Buddha dari Thailand, Myanmar, dan Kamboja. Ada juga lukisan yang menggambarkan kehidupan Buddha, porselen biru-putih Dinasti Ming, keramik Benjarong, hingga meja makan yang pernah digunakan Raja Rama V Thailand.
Jim Thompson House Museum. (CNN Indonesia/Tiara Sutari)
Ada pula detail unik yang kerap memancing senyum, kamar mandi dengan urinoir berbentuk kucing dan bidet berbentuk katak.
Di area dekat loket tiket, pengunjung bisa menyaksikan demonstrasi pemintalan sutra secara langsung. Kepompong sutra direbus dalam air panas, lalu benang halusnya ditarik perlahan.
Di sampingnya, gulungan benang warna-warni tersusun rapi, sebuah pengingat bahwa di balik kemewahan kain sutra, ada proses panjang yang telaten dan perlu kesabaran.
Kunjungan ke rumah utama hanya bisa dilakukan dengan tur berpemandu yang sudah termasuk dalam harga tiket. Tur berlangsung sekitar 35 menit dan tersedia dalam beberapa bahasa, termasuk Thai dan Inggris.
Jam operasional museum setiap hari pukul 09.00-18.00, dengan tur terakhir dimulai sekitar pukul 17.00-18.00. Untuk suasana lebih lengang, datanglah pada hari kerja di pagi hari.
Jim Thompson Museum. (istockphoto/OSTILL)
Harga tiket masuk sekitar 200-250 baht per orang, dengan diskon bagi pelajar di bawah 22 tahun yang menunjukkan kartu identitas. Anak di bawah 10 tahun dapat masuk gratis.
Tiket dibeli langsung di lokasi, namun Anda mungkin perlu menunggu giliran tur sesuai bahasa pilihan.
Meski kini foto diperbolehkan di dalam rumah, video dan swafoto tetap dilarang. Dan satu hal penting, abaikan siapa pun di sekitar museum yang mengaku tempat ini tutup dan menawarkan perjalanan belanja dengan tuk-tuk, itu modus penipuan yang masih kerap terjadi.
Lebih dari sekadar museum
Seusai tur, sempatkan berjalan di taman rindang yang mengelilingi kompleks. Pepohonan tropis, kolam ikan berwarna oranye-putih, dan gemericik air menghadirkan suasana yang kontras dengan riuhnya kota.
Di samping rumah utama terdapat restoran dan Silk Café yang menyajikan hidangan tradisional Thailand dengan presentasi elegan.
Harganya memang lebih tinggi dibanding warung lokal, tetapi suasananya menawarkan pengalaman jamuan khas Thai yang chic dan tenang. Cocok untuk rehat sejenak setelah menjelajahi rumah dan berbelanja di toko suvenir.
Jim Thompson House Museum. (CNN Indonesia/Tiara Sutari)
Toko cendera mata di sini pun layak dikunjungi. Dari dasi sutra, kemeja ringan, hingga syal mewah, semuanya menjadi perpanjangan dari warisan yang dibangun Thompson puluhan tahun lalu.
Kini, merek Jim Thompson telah berkembang menjadi kerajaan mode dan produk rumah tangga yang mendunia.
Mengunjungi Jim Thompson House bukan sekadar melihat koleksi artefak. Ini adalah perjalanan menelusuri bagaimana satu orang asing jatuh cinta pada budaya Thailand, mengangkatnya ke panggung dunia, lalu meninggalkan jejak yang tetap hidup, di balik kilau sutra dan misteri yang belum terjawab.
(tis)

2 hours ago
1
















































