Jakarta, CNN Indonesia --
Pemerintah berupaya mengurangi dampak pelemahan rupiah terhadap sektor energi dengan meningkatkan produksi minyak bumi dalam negeri.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan peningkatan produksi minyak nasional menjadi salah satu langkah untuk menekan ketergantungan impor BBM.
Dengan begitu, dampak fluktuasi nilai tukar terhadap kebutuhan energi nasional dapat diminimalkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita berusaha untuk meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri," ujar Yuliot di kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Jumat (5/6).
Menurut dia, pemerintah tengah menyiapkan penerapan teknologi unconventional atau metode ekstraksi nontradisional pada sejumlah blok migas yang memiliki cadangan cukup berdasarkan hasil survei geologi.
Saat ini, wilayah kerja yang dinilai paling memungkinkan untuk dikembangkan dengan teknologi tersebut adalah Blok Rokan.
"Untuk unconventional ini, wilayah kerja yang paling memungkinkan saat ini adalah wilayah Rokan. Sudah ada kajian awal yang dilakukan oleh Pertamina Hulu Rokan untuk pengembangan unconventional ini," ujar Yuliot.
Yuliot kemudian mencontohkan pengalaman Amerika Serikat ketika menerapkan teknologi unconventional.
Hasilnya, Amerika Serikat disebut mampu surplus produksi minyak hingga akhirnya menjadi negara pengekspor.
Yuliot mengatakan sudah ada yang menawarkan Kementerian ESDM beberapa teknologi unconventional dan mereka sudah dipertemukan dengan SKK Migas.
"SKK Migas minta kalau bisa akhir Juni ini sudah bisa diselesaikan kerangka regulasinya dan juga bisa diimplementasikan pada awal Juli. Jadi ini kita lagi berkejaran dengan waktu," katanya.
Ia menegaskan peningkatan produksi dalam negeri akan membantu mengurangi impor energi sekaligus menekan dampak pelemahan nilai tukar.
"Kalau tingkat produksi dalam negeri terjadi peningkatan, berarti kita juga akan mengurangi impor dan juga tidak terpengaruh terhadap perubahan atau fluktuasi mata uang," ucapnya.
Sementara itu, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengungkapkan sudah ada sumur minyak unconventional yang telah dibor dan mampu memproduksi sekitar 500 barel minyak per hari. Produksi ini pun masih dapat meningkat menjadi ribuan barel per hari.
"Kemarin baru satu sumur yang dibor, ada produksinya 500 barel oil per day. Nanti akan dibor dengan banyak sumur, tentunya akan ribuan barel oil per day," ujar Djoko.
Selain migas unconventional, pemerintah juga mempercepat penerapan teknologi fracking dan Enhanced Oil Recovery (EOR) di sejumlah wilayah kerja migas.
Yuliot mengatakan berbagai upaya tersebut ditujukan untuk mendongkrak produksi nasional hingga mencapai target 900 ribu hingga 1 juta barel minyak per hari pada 2029.
"Target produksi tahun 2029 ini berkisar antara 900 sampai 1 juta barel secara keseluruhan," ujarnya.
(dhz/sfr)
Add
as a preferred source on Google

5 hours ago
11

















































