Review Film: The Bride!

4 hours ago 3

Christie Stefanie | CNN Indonesia

Rabu, 11 Mar 2026 19:30 WIB

 Akting Jessie Buckley dan Christian Bale juara, tapi sulit selamatkan narasi film yang kacau dan krisis identitas ini. Review The Bride: Akting Jessie Buckley dan Christian Bale juara, tapi sulit selamatkan narasi film yang kacau dan krisis identitas ini. (Warner Bros. Pictures)

img-title Christie Stefanie

Review The Bride: Akting Jessie Buckley dan Christian Bale juara, tapi sulit selamatkan narasi film yang kacau dan krisis identitas ini.

Jakarta, CNN Indonesia --

Setelah terpukau dengan penampilan Jessie Buckley yang menyayat hati dalam Hamnet, ekspektasi terhadap kolaborasinya dengan Christian Bale dalam gothic romance The Bride! tentu melambung tinggi.

Di atas kertas, cerita yang ditulis dan diarahkan Maggie Gyllenhaal ini menjanjikan dekonstruksi mitos monster klasik yang segar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, film ini kenyataannya menjadi pengingat keras bagi bahwa performa akting kaliber Oscar sekalipun tidak selalu mampu menambal naskah yang kurang matang dan eksekusi yang kedodoran.

Premise film ini sebenarnya cukup memancing rasa penasaran, yakni menghidupkan kembali seorang perempuan malang untuk menjadi pendamping abadi monster Frankenstein.

Setelah dibangkitkan, the Bride yang diperankan Jessie Buckley ternyata punya pemikiran sendiri yang jauh lebih liar dan kacau daripada yang pernah dibayangkan Frank (Christian Bale) dan penciptanya, Dr. Euphronius (Annette Bening).

Ia justru menjelma menjadi katalisator revolusi feminis di tengah masyarakat seksis yang hanya memandang perempuan sebagai objek pemuas atau sekadar anak tangga bagi karier pria.

[Gambas:Video CNN]

Menonton The Bride! adalah pengalaman yang sepertinya sengaja dibuat tidak nyaman, in a good and bad way. Atmosfernya mencekam, didukung scoring dengan nada-nada disonan yang memperkuat perasaan tertekan.

Pada saat bersamaan, tanpa saya duga, film ini mencoba menyelipkan dark jokes yang memancing tawa getir.

Namun, narasi film ini dengan cepat berbelok ke arah yang membuat The Bride seperti kehilangan identitas. Eksekusi film ini melenceng jauh dari harapan, dan hasilnya kurang memuaskan.

Pilihan kreatif film ini menjadi catatan utama bagi The Bride!. Film ini menggunakan konsep unik, tapi malah jadi membingungkan dengan roh Mary Shelley, penulis asli novel Frankenstein, merasuki tubuh the Bride.

Film dibuka dengan roh Mary Shelley (yang juga diperankan oleh Buckley) berada di ruang hampa dan meratapi hilangnya pengakuan sejarah atas karyanya.

Ia kemudian memutuskan "meminjam" tubuh Ida, seorang perempuan yang tewas dalam jamuan makan malam mafia untuk bangkit kembali dan mencicipi kebebasan yang tidak pernah ia dapatkan di abad ke-19.

Meski konsep ini terasa sangat baru dan berani, logika ini goyah karena seperti tidak dipikirkan lebih dalam. Karakter asli serta latar belakang Ida tidak pernah diberi pendalaman yang cukup sebelum kematiannya.

Akibatnya, penonton seolah-olah hanya mengikuti perjalanan dan curhatan roh Shelley, yang membuat sosok the Bride itu sendiri jadi seperti wadah kosong yang kurang bernyawa secara karakter.

Ambisi Maggie Gyllenhaal sebagai penulis sekaligus sutradara dalam menafsirkan ulang The Bride of Frankenstein (1935) terasa meluap-luap, sehingga naskahnya terasa tumpang tindih.

Film ini seolah mengalami krisis identitas; berpindah drastis dari komedi satir, romansa, manifesto feminisme, hingga horor klasik dengan transisi yang kasar.

Penonton sering kali disuguhi adegan the Bride merespons sesuatu dengan tak terkendali, berteriak-teriak, berlaku liar, hingga mengutip teks sastra layaknya profesor yang sedang gelisah.

Ketidaknyamanan saat menonton film misteri dan gothic kerap dirasakan dan memang sengaja dihadirkan untuk dinikmati penonton, tapi lain cerita dengan film ini. 

Bukannya mendukung cerita, scoring yang berisik dan disonan ini malah menjadi beban tambahan yang membuat penonton merasa terasing sekaligus pening di tengah plot yang sudah membingungkan.

Ditambah lagi dengan subplot pelarian ala Bonnie and Clyde untuk Frank dan the Bride terasa seperti potongan film lain yang tersesat dan dijahit begitu saja dalam film ini. 

The Bride! merupakan film gotik romantis yang terinspirasi dari film Bride of Frankenstein pada 1935, yang didasarkan pada novel Frankenstein karya Mary Shelley pada 1818.Review The Bride!: Plotnya tumpang tindih, minim fokus, dan narasi yang berantakan membuat film ini seperti krisis identitas. (dok. Warner Bros. Pictures)

Begitu pula dengan kehadiran Penélope Cruz sebagai Myrna dan Peter Sarsgaard sebagai detektif Jake Wiles. Meskipun Cruz tampil mencuri perhatian, perannya hanya terasa sebagai pelengkap estetika atau "pemanis" naskah.

Sementara itu, Sarsgaard terjebak dalam subplot repetitif yang semakin mempertegas bahwa film ini terlalu banyak elemen namun kurang fokus pada pengembangan tokoh pendukung.

Saat bagian tengahnya repetitif, babak penutupnya malah seperti terburu-buru karena mencoba menjahit semua konflik, mulai dari aktualisasi diri the Bride hingga tragedi pribadi Frankenstein secara bersamaan.

Meski secara struktural rapuh, The Bride masih bisa berdiri berkat kekuatan akting Jessie Buckley dan Christian Bale.

Jika Hamnet menunjukkan akting luar biasa dari Buckley mengenai kehancuran hati seorang ibu berkat naskah yang baik pula, lewat The Bride! Jessie Buckley membuktikan kelasnya sebagai aktris yang mampu "menggendong" film yang kualitasnya tidak istimewa.

Ia memberikan performa yang memukau dalam menavigasi identitas Ida, the Bride, dan Mary Shelley sebagai tiga entitas berbeda dengan sangat presisi.

Kemampuannya beralih persona lewat ekspresi wajah dan bahasa tubuh sebagai pencipta dan ciptaan adalah bukti pelajaran akting fisik yang luar biasa bahkan saat naskahnya sendiri gagal memberikan ruang gerak yang cukup.

Buckley hampir berhasil meyakinkan penonton bahwa film ini merupakan tontonan yang bagus lewat kedalaman emosi yang ia berikan pada konsep "kerasukan" yang aneh tersebut.

The Bride! merupakan film gotik romantis yang terinspirasi dari film Bride of Frankenstein pada 1935, yang didasarkan pada novel Frankenstein karya Mary Shelley pada 1818.Review The Bride!: Akting luar biasa Buckley jadi penyelamat karena ia "menggendong" film ini lewat performa yang presisi dan memukau. (dok. Warner Bros Picture via YouTube)

Film The Bride! (2026). (Warner Bros. Pictures)Review The Bride!: Christian Bale memang layak disebut si aktor bunglon karena akting "bunglonnya" ia berhasil memberi jiwa pada karakter Frank dalam film yang rapuh ini. (Warner Bros. Pictures)

Christian Bale pun tampil sebagai rekan duet yang sempurna. Sang aktor "bunglon" ini kembali menunjukkan sisi melankolis dari balik riasan prostetik yang tebal.

Bale menampilkan Frankenstein sebagai pria yang lembut, penyayang, dan terobsesi pada film musikal Hollywood era keemasan demi mengobati kesepian yang ia rasakan selama 117 tahun.

Chemistry antara Bale dan Buckley memberikan sedikit resonansi emosional yang tulus di tengah kekacauan plot yang ada.

Pada akhirnya, The Bride! adalah eksperimen artistik yang menarik namun berujung berantakan. Revolusi feminis yang ingin dinyalakannya terasa padam karena eksekusi yang terlalu berlebihan.

Namun, dedikasi Buckley dan Bale membuat saya terus coba bertahan menonton hingga kredit akhir bergulir.

[Gambas:Youtube]

(chri/chri)

Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |