Jakarta, CNN Indonesia --
Para pelaku sejarah deklarasi damai Malino I di Poso dan Malino II di Maluku memberikan kesaksian bahwa ceramah Wakil Presiden Ke-10 dan Ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) di Universitas Gadjah Mada (UGM) sesuai narasi sejarah.
Para tokoh yang terlibat dalam deklarasi damai Malino dalam perundingan konflik di Poso dan Maluku, menggelar pertemuan Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (21/4), pukul 10.00 WIB. Pertemuan berlangsung selama dua jam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Forum tersebut dilaksanakan secara terbuka dan menyepakati perdamaian menanggapi polemik isi ceramah JK di UGM pada Kamis (5/3).
Salah satu pelaku sejarah dari delegasi deklarasi Malino II di Maluku John Ruhulessin mengatakan muatan ceramah JK sesuai fakta sosiologis yang terjadi.
John membenarkan JK sebagai perwakilan negara dalam perundingan damai mendatangi langsung masyarakat di Ambon, Maluku serta memahami kondisi konflik yang terjadi.
Menurut dia, ceramah JK tersebut tidak bermaksud menistakan agama Kristen.
"Bapak JK tidak pernah membicarakan tentang sebuah doktrin agama. Kalau pada waktu itu doktrin agama itu diberlakukan, saya yakin tidak akan terjadi konflik di Maluku, tetapi justru ketika itu, agama dipakai sebagai alat legitimasi kekerasan dan pembunuhan yang terjadi," ujarnya.
Sementara, pihak delegasi perundingan Malino I di Poso, Pendeta Rinaldi Damanik meminta masyarakat untuk mencermati bahwa ceramah JK di UGM sesuai narasi sejarah yang sebenarnya.
"Karena itu, kami berharap siapapun dia yang kontra terhadap apa yang disampaikan oleh Pak JK, mari belajar tentang kasus itu. Lihat dulu," ucapnya.
Sementara itu, Ketua DPP Hidayatullah Bidang Organisasi Dudung Amadung Abdullah menyampaikan isi ceramah yang diduga menistakan agama itu tidak ada delik pidana dalam muatan narasi yang disampaikan.
"Menurut hemat kami. setelah kami menelaah apa yang disampaikan oleh Pak Jusuf Kalla di UGM, tidak ada satupun delik yang menunjukkan beliau melakukan penistaan terhadap agama," ucapnya.
Untuk itu, ia mengungkapkan pertemuan tersebut menjadi momen yang tepat bagi setiap perwakilan antarumat beragama menenangkan kondisi terkait permasalahan tersebut.
"Barangkali sekali lagi ini momen bagi kita untuk sama-sama menenangkan umat kita masing-masing," katanya.
(antara/wis)
Add
as a preferred source on Google

3 hours ago
9
















































