Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Luar Negeri RI Sugiono memastikan pasokan energi dan bahan bakar minyak (BBM) Indonesia tetap relatif aman meski situasi geopolitik di Timur Tengah memanas termasuk ketegangan di Selat Hormuz.
"Namun yang perlu kita sama-sama ingat bahwa saat ini satu posisi energi kita relatif aman, sesuai apa yang disampaikan oleh Kementerian ESDM. Kemudian supply yang kita dapat juga tidak semuanya itu lewat Hormuz," ujar Sugiono dalam konferensi pers di Kantor Staf Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (22/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan sebagian pasokan energi Indonesia memang melewati jalur Selat Hormuz, tetapi porsinya tidak dominan jika dibandingkan dengan total kebutuhan nasional. Oleh karena itu, gangguan di jalur tersebut dinilai tidak serta-merta mengganggu keseluruhan pasokan energi dalam negeri.
Sugiono juga mengungkapkan terdapat dua kapal milik Pertamina yang berada di kawasan tersebut dengan muatan sekitar 2 juta barel minyak mentah. Namun, volume tersebut relatif kecil dibandingkan kebutuhan energi nasional.
"Yang di Selat Hormuz itu informasi yang saya dapatkan, yang disampaikan ke saya bahwa isinya itu kurang lebih 2 juta barrel crude, dan kebutuhan itu kalau misalnya disandingkan dengan kebutuhan energi kita, merupakan satu kebutuhan yang relatif kecil," katanya.
Ia mengingatkan agar situasi di Selat Hormuz tidak dipersepsikan secara berlebihan, mengingat pemerintah telah memiliki berbagai sumber pasokan energi dari negara lain.
"Supaya kita tidak hilang gambaran, keberhasilan pemerintah menjaga supply BBM, supply energi, ini lebih besar daripada apa yang sekarang sedang nyangkut di Hormuz, tanpa bermaksud mengecilkan permasalahan ini," ujarnya.
Menurut Sugiono, Indonesia memiliki alternatif sumber pasokan energi dari sejumlah negara, termasuk Rusia dan Amerika Serikat (AS). Selain itu, Pertamina juga memiliki ladang migas di berbagai wilayah yang dapat mendukung ketahanan energi nasional.
Di sisi lain, pemerintah terus melakukan upaya diplomasi untuk memastikan kelancaran pelayaran kapal-kapal Indonesia di Selat Hormuz. Kementerian Luar Negeri melalui Kedutaan Besar RI di Teheran disebut terus berkomunikasi dengan pihak terkait.
"Kementerian Luar Negeri dalam hal ini, Kedutaan Besar kita di Teheran, juga terus melakukan pembicaraan terkait dengan izin lewat dari kapal-kapal kita yang ada di Selat Hormuz," kata Sugiono.
Ia mengakui situasi di lapangan cukup kompleks, terutama karena kondisi internal di Iran yang dapat mempengaruhi implementasi kebijakan di lapangan.
Ketegangan di Selat Hormuz sendiri meningkat setelah Iran kembali menutup jalur tersebut dan memperingatkan kapal-kapal agar tidak melintas. Dalam pernyataan resmi, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyebut setiap kapal yang melanggar akan dianggap sebagai target.
"Kami memperingatkan bahwa tidak ada kapal jenis apa pun yang boleh bergerak dari tempat penjangkarannya di Teluk Persia dan Laut Oman," demikian pernyataan IRGC.
Situasi ini dipicu oleh ketegangan antara Iran dan AS yang saling bersitegang terkait blokade dan kesepakatan gencatan senjata.
(del/bac)
Add
as a preferred source on Google

2 hours ago
6

















































