Maret 2026, Inflasi Sumbar Turun Signifikan, Operasi Pasar dan GPM Sukses Kendalikan Harga Pangan

5 hours ago 8

PADANG, METRO–Indeks Harga Konsu­men (IHK) Provinsi Su­matra Barat (Sumbar) pada Maret 2026 tercatat mengalami inflasi sebesar 0,­04% (mtm), menurun signifikan dibandingkan bulan sebelumnya serta lebih rendah dari inflasi nasio­nal yang tercatat 0,41% (mtm).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Su­ma­tra Barat, Mohamad Abdul Majid Ikram mengatakan, penurunan inflasi terutama dipengaruhi oleh efektivitas berbagai upaya pe­ngendalian harga selama periode Ramadan dan Hari Besar Keagamaan Nasio­nal (HBKN) Idul Fitri 2026 antara lain sidak pasar, operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah (GPM) yang berhasil menjaga keterjangkauan harga.

“Selain berhasil menjaga stabulitas harga, upaya operasi pasar maupun G­PM juga berhasil menjaga ketersediaan pasokan, dan kelancaran distribusi pangan strategis. Kondisi ini menjadi faktor penting dalam menekan laju inflasi selama periode yang umumnya rawan gejolak harga.,” ungkap Abdul Majid.

Menutur Abdul Majid, dengan perkembangan tersebut, secara kumulatif Januari –Maret 2026 Su­matera Barat mencatat deflasi sebesar 0,82% (ytd) dan secara tahunan inflasi tercatat sebesar 3,37%, berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1% (yoy).

“Tekanan inflasi pada Maret 2026 terutama bersumber dari kelompok makanan, minuman dan tembakau khususnya kenaikan harga daging ayam ras, jengkol, dan ikan tong­kolseiring peningkatan permintaan masyarakat selama Ramadan dan menjelang Idul Fitri,” ujar Abdul Majid.

Secara bulanan, kata Abdul Majid, daging ayam ras tercatat mengalami inflasi 3,35% (mtm), jengkol 22,24% (mtm), dan ikan tongkol 8,94% (mtm). Selain itu, penyesuaian harga BBM non-subsidi yang berlaku sejak 1 Maret 2026 turut memberikan tekanan inflasi, tercermin dari inflasi bensin sebesar 0,68% (mtm).

“Namun demikian, tekanan inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh deflasi pada sejumlah komoditas pangan utama seiring mem­baiknya pasokan dan distribusi. Harga cabai me­rah mengalami penurunan signifikan dengan deflasi -11,12% (mtm), disusul ba­wang merah sebesar -3,06% (mtm) dan beras sebesar -0,38% (mtm), di­dukung oleh optimalisasi operasi pasar, Gerakan Pasar Murah (GPM), serta pemenuhan pasokan melalui Kerja Sama Antar Dae­rah (KAD),” jelas Abdul Majid.

Selain itu, kata Abdul Majid, penurunan harga emas global dan implementasi diskon tarif angkutan udara selama periode HBKN mendorong deflasi pada emas perhiasan se­besar -5,91% (mtm) dan angkutan udara sebesar -9,92% (mtm). Inflasi juga tertahan oleh deflasi tomat sebesar -24,90% (mtm) seiring masuknya masa panen di sejumlah sentra produksi.

“Secara spasial, per­kembangan harga an­tar kabupaten/kota di Pro­vinsi Sumbar pada Maret 2026 cukup bervariasi. Inflasi bulanan tertinggi tercatat di Kabupaten Dharmasraya sebesar 0,44% (mtm), diikuti oleh Kota Bukittinggi yang mencatat inflasi sebesar 0,16% (mtm). Sebaliknya, Kota Padang dan Kabupaten Pasaman Ba­ratmengalami deflasi masing-masing sebesar -0,02% (mtm) dan -0,05% (mtm), yang terutama dipengaruhi oleh penurunan harga emas perhiasan dan komoditas hortikultura sei­ring dengan normalisasi pasokan baik dari dalam maupun antarwilayah,” tutur dia,

Dengan perkembangan tersebut, kata Abdul Majid,inflasi tahunan Pro­vinsi Sumbar pada Maret 2026 tercatat sebesar 3,37% (yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi nasional dan kembali berada dalam ren­tang sasaran inflasi 2,5±1% (yoy).

“Tekanan inflasi ta­hu­nan terutama bersumber pada low-base effectkenaikan harga emas perhiasan, daging ayam ras, dan beras, serta kenaikan harga mobil seiring pemberlakuan opsen Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kenda­raan Bermotor (BBNKB), di tengah berlanjutnya tekanan depresiasi nilai tukar rupiah. Di sisi lain, inflasi tahunan tertahan oleh pe­nurunan harga sejumlah komoditas pangan, seperti cabai merah, kentang, dan bawang merah, sejalan dengan perbaikan pasokan,” ujarnya.

Untuk mendukung upaya pengendalian inflasi, Abdul Majid menegaskan, KPwBI Sumbar bersama TPID Provinsi Sumbar akan terus memperkuat sinergi pengendalian inflasi  melalui intensifikasi Operasi Pasar dan Gerakan Pangan Murah (GPM) serta perluasan program Sekolah La­pang DAUN dan DAUN BANGKIT guna meningkatkan produktivitas pertanian dan memperkuat hilirisasi pangan.

“Inflasi Sumbar ke de­pan diprakirakan tetap ter­kendali dalam rentang sa­saran inflasi nasional. Namun demikian, risiko inflasi masih perlu diwaspadai, khususnya yang bersumber dari ketidakpastian global, eskalasi tensi geopolitik yang berpotensi mendorong kenaikan harga energi dan emas, serta gangguan pasokan akibat cuaca ekstrem. Oleh karena itu, sinergi TPID akan terus diperkuat untuk menjaga inflasi Sumbar tetap berada dalam rentang 2,5­±1% (yoy) pada tahun 20­26,” tukasnya. (rgr)

Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |