Mayapada Hospital | CNN Indonesia
Senin, 11 Mei 2026 15:25 WIB
Ilustrasi Padel. (Foto: iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --
Olahraga seperti gym, padel, tenis, hingga renang kini semakin populer di kalangan masyarakat yang ingin menjaga kebugaran tubuh. Aktivitas tersebut sangat mengandalkan sendi bahu yang memiliki rentang gerak paling luas serta fleksibilitas tinggi.
Meski fleksibel, gerakan lengan yang dilakukan secara berulang dalam jangka panjang menyimpan risiko cedera yang bisa membatasi gerak sekaligus menurunkan performa. Dua kondisi yang paling sering dialami atlet maupun sport enthusiast adalah rotator cuff injury dan frozen shoulder.
Dokter spesialis ortopedi konsultan bahu dari Mayapada Hospital, dr. Sumpada Priambudi menjelaskan, rotator cuff injury merupakan cedera pada otot dan tendon yang berfungsi menjaga stabilitas serta pergerakan bahu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Umumnya terjadi akibat penggunaan berulang, trauma, atau proses degeneratif. Kondisi ini biasanya ditandai nyeri saat mengangkat lengan, kelemahan pada bahu, serta kesulitan melakukan aktivitas di atas kepala," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (8/5).
Jenis cedera lain yang sering ditemukan pada area bahu adalah frozen shoulder atau dikenal sebagai adhesive capsulitis. Kondisi ini muncul ketika kapsul pelindung sendi bahu mengalami peradangan dan penebalan sehingga menyebabkan kekakuan secara bertahap.
"Kondisi ini ditandai keterbatasan gerak yang makin memburuk, serta nyeri terutama di malam hari dan saat aktivitas sederhana seperti menyisir rambut atau mengangkat lengan," imbuh dr. Priambudi.
Ilustrasi cedera bahu saat berolahraga. (Foto: Arsip Mayapada Hospital)
Pilihan penanganan disesuaikan dengan tingkat keparahan cedera yang dialami. Pada banyak kasus, pendekatan konservatif sudah cukup untuk memulihkan fungsi bahu.
Metode ini meliputi fisioterapi rutin, latihan mobilitas sendi, hingga penggunaan obat-obatan anti-peradangan sesuai anjuran dokter.
Jika terapi awal tidak memberikan hasil maksimal, tindakan medis yang lebih intensif dapat dipertimbangkan oleh tim ahli. Injeksi sendi atau prosedur artroskopi secara minimal invasif menjadi opsi efektif untuk memperbaiki jaringan yang rusak.
"Tindakan artroskopi dilakukan dengan sayatan kecil sehingga proses pemulihan pasien dapat berlangsung lebih cepat," tutur dr. Priambudi.
Mengenali gejala sejak awal adalah kunci agar cedera tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih serius. Penanganan yang tepat dan cepat turut menentukan seberapa optimal pemulihan yang bisa dicapai.
Mayapada Hospital menyediakan layanan Orthopedic Center yang menangani berbagai keluhan nyeri otot dan sendi, mulai dari pencegahan, pemeriksaan, hingga pemulihan cedera. Tim dokter spesialis siap mendampingi setiap tahap penanganan.
Selain itu, tersedia Sports Injury Treatment & Performance Center (SITPEC) yang dirancang khusus untuk kebutuhan atlet dan pelaku olahraga aktif. Layanannya mencakup skrining, pencegahan cedera, penanganan, hingga peningkatan performa, didukung fasilitas seperti gym, VO2 Max, dan Body Composition Analysis.
Informasi lengkap seputar layanan kesehatan Mayapada Hospital dapat diakses melalui aplikasi MyCare. Aplikasi ini juga dilengkapi fitur Personal Health untuk memantau langkah kaki, detak jantung, kalori terbakar, dan Body Mass Index (BMI) secara praktis.
(rir)
Add
as a preferred source on Google

2 hours ago
1

















































