Jakarta, CNN Indonesia --
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga minyak goreng mengalami kenaikan di 207 kabupaten/kota pada pekan ketiga April 2026. Kenaikan ini bahkan mendorong harga tertinggi menyentuh Rp60 ribu per liter di Kabupaten Intan Jaya, Papua.
Sementara itu, harga terendah tercatat sebesar Rp15.500 per liter, yang masih berada di kisaran harga acuan nasional.
Secara nasional, rata-rata harga minyak goreng dari seluruh kategori, baik curah, premium, maupun Minyakita, naik dari Rp19.358 per liter menjadi Rp19.592 per liter. Untuk Minyakita, harganya berada di kisaran Rp15.982 per liter atau sedikit di atas harga eceran tertinggi (HET) Rp15.700 per liter.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan jumlah daerah yang mengalami kenaikan harga meningkat signifikan dalam sepekan terakhir.
"Minyak goreng, ini sebagai catatannya, ini peningkatannya terjadi pada 207 kabupaten/kota. Sengaja kami memberikan tanda seru, karena pada minggu keduanya itu hanya 177 kabupaten/kota, sekarang menjadi 207 kabupaten-kota," ujar Ateng dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026, Senin (20/4).
Ia menambahkan, jika dipersentasekan, kenaikan harga tersebut telah mencakup lebih dari separuh wilayah Indonesia.
"Kalau dipersentasekan, itu sebesar 57,50 persen wilayah Indonesia yang mengalami peningkatan harga minyak gorengnya," kata dia.
Secara keseluruhan, harga minyak goreng nasional tidak melonjak tajam, namun tetap mencatat kenaikan sebesar 1,21 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Di sisi lain, Direktur Bina Pasar Dalam Negeri Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Kementerian Perdagangan Nawandaru Dwi Putra menyebut harga Minyakita juga mengalami kenaikan dalam sepekan terakhir.
"Terkait dengan perkembangan harga komoditas Minyakita, memang ada sedikit kenaikan dalam minggu ini, yaitu sebesar Rp15.982 per liter," ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan kenaikan harga tersebut bukan disebabkan oleh kelangkaan pasokan.
"Dalam forum ini kami informasikan bahwa sebenarnya tidak ada kelangkaan. Untuk ketersediaan minyak goreng secara umum ini melimpah dan sangat aman," kata Nawandaru.
Ia menjelaskan pasokan minyak goreng masih ditopang berbagai jenis produk yang tersedia di pasar, baik minyak goreng premium maupun merek alternatif.
Meski pasokan dinilai aman, tekanan harga tetap muncul dari sisi biaya produksi, terutama kemasan. Kenaikan harga plastik disebut turut mendorong kenaikan harga minyak goreng di tingkat konsumen.
Dampak kenaikan ini juga mulai merambat ke komoditas lain, seperti gula pasir. Secara nasional, harga gula naik sekitar 1,31 persen dengan rata-rata mencapai Rp18.731 per kilogram.
Ateng menambahkan jumlah daerah yang mengalami kenaikan harga gula meningkat dari 153 menjadi 171 kabupaten/kota.
"Terkait dengan gula pasir tersebut kami mengidentifikasikan salah satu pendorongnya ini dari kenaikan harga plastik karena plastik digunakan sebagai packaging atau kemasan di gula pasir," ujar Ateng.
(lau/ins)
Add
as a preferred source on Google

4 hours ago
4
















































