CNN Indonesia
Senin, 16 Mar 2026 09:00 WIB
Ilustrasi. Pemberian vaksin campak, utamanya booster, pada orang dewasa bisa melindungi bayi yang ada di sekitarnya dari penyakit menular tersebut. (iStock/ozgurdonmaz)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kasus campak yang kembali meningkat membuat banyak orang mulai bertanya-tanya soal vaksin, termasuk untuk orang dewasa. Tidak sedikit pula yang baru menyadari bahwa mereka mungkin belum pernah mendapatkan vaksin campak saat kecil.
Lalu, apakah vaksin campak tetap efektif jika diberikan saat seseorang sudah dewasa?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dokter spesialis anak sekaligus Ketua Pengurus Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Piprim Basarah Yanuarso menyampaikan bahwa vaksin campak tetap bisa diberikan kepada orang dewasa dan masih efektif untuk membentuk perlindungan terhadap penyakit tersebut.
"[Vaksin campak] efektif [untuk orang dewasa]," jawab Piprim di Rumah Vaksinasi Pusat, Jakarta Timur, Kamis (12/3).
Ia menjelaskan bahwa dalam kondisi tertentu, vaksin campak pada orang dewasa bahkan bisa menjadi langkah penting untuk melindungi kelompok yang lebih rentan, terutama bayi yang belum cukup usia untuk menerima imunisasi.
"Jadi, sebetulnya untuk kelompok anak di bawah 9 bulan yang belum dapat jadwal imunisasi sendiri, itu dilindungi oleh lingkungannya, terutama ayah-bundanya yang kebal terhadap campak," ujarnya.
Dokter subspesialis kardiologi (konsultan) anak itu juga menjabarkan bahwa jika seseorang sudah mendapatkan imunisasi lengkap sejak kecil, seharusnya ia sudah memiliki perlindungan terhadap virus campak. Namun dalam beberapa kasus, ada orang yang imunisasinya tidak lengkap atau terlewat.
"Harusnya kalau vaksinnya lengkap, dia sudah kebal. Tapi kalau dulu bolong-bolong juga, itu memang bagus juga kalau ibunya atau ayahnya dapat booster imunisasi MR," kata Piprim.
Bisa lindungi bayi dari campak
Menurutnya, pemberian booster pada orang tua bisa menjadi langkah tambahan untuk melindungi bayi, terutama di tengah situasi ketika kasus campak sedang meningkat di berbagai daerah.
"Di situasi yang sulit seperti ini, di situasi yang KLB-nya ke mana-mana, saya kira itu juga ide yang bagus. Apalagi kalau punya bayi umur 2 bulan, 3 bulan. Bayi itu, kan, belum waktunya tuh imunisasi," ujarnya.
Ilustrasi. Pemberian booster vaksin campak pada orang dewasa bisa melindungi bayi dari penyakit menular tersebut. (iStock/kipgodi)
Dalam kondisi tersebut, kekebalan orang-orang di sekitar bayi dapat membantu melindungi mereka dari risiko tertular penyakit.
Meski begitu, ia menjelaskan bahwa vaksinasi campak untuk orang dewasa saat ini bukan bagian dari program imunisasi rutin pemerintah. Program imunisasi nasional lebih difokuskan pada anak-anak.
"Program pemerintah karena keterbatasan stok vaksin dan sebagainya, yang di-cover tuh 9 bulan sampai 15 tahun kalau tidak salah. Itu yang menjadi fokus dari program ini," ujarnya.
Jadwal ideal vaksin campak
Umumnya, imunisasi campak diberikan sejak usia anak-anak. Dalam program pemerintah, vaksin campak biasanya diberikan pertama kali saat bayi berusia sekitar 9 bulan.
"Jadi campak itu di usia 9 bulan. Kemudian nanti kalau program pemerintah di 2 tahun itu ulangan MR dan nanti di usia 5 tahun," kata Piprim.
Sementara itu, menurut rekomendasi IDAI, vaksin campak juga bisa diberikan dalam bentuk vaksin kombinasi MMR (measles, mumps, rubella).
"Tapi kalau di IDAI itu ada MMR, itu umur 15 bulan, dan nanti diulang di umur 5 tahun, jadi 3 kali itu cukup ya," ujarnya.
Setelah dewasa, vaksin ini juga bisa diberikan kembali sebagai booster untuk memperkuat daya tahan tubuh terhadap virus campak.
"Nanti kalau udah dewasa, bisa diulang lagi. Menjelang kehamilan, sebelum menikah, MMR itu bisa diberikan lagi dua kali dosisnya," kata Piprim.
Menurutnya, pengulangan vaksin bertujuan untuk memperkuat memori sistem kekebalan tubuh terhadap virus.
"Jadi ini bisa diulang-ulang untuk menyegarkan memori dari sel-sel imun kita terhadap penyakit campak. Karena ini butuh kekebalan spesifik," ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa penyakit campak termasuk dalam kelompok penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) yang memiliki dampak serius bagi kesehatan.
"Penyakit yang disebut PD3I itu penyakit bukan biasa. Extraordinary. Kalau tidak sangat menular, dia bikin cacat, atau bisa bikin meninggal," katanya.
Karena itu, vaksinasi tetap menjadi cara paling efektif untuk memberikan perlindungan tanpa harus mengalami penyakitnya terlebih dahulu.
(anm/asr)
Add
as a preferred source on Google

2 hours ago
2

















































