Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan ingin terlibat dalam menentukan penerus pemimpin tertinggi Iran, usai Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan brutal AS-Israel pekan lalu.
Trump merasa punya hak untuk menentukan masa depan Iran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami ingin terlibat dalam proses pemilihan orang yang akan memimpin Iran di masa depan," kata dia dalam wawancara telepon dengan Reuters, Kamis (5/3).
Di kesempatan terpisah, Trump juga menolak kandidat pengganti Khamenei yang juga anaknya, Mojtaba Khamenei. Di mata Trump, Mojtaba dianggap sebagai sosok yang "tak berbobot."
Trump sebelumnya mengatakan telah memilih tiga orang yang sangat bagus sebagai pengganti Khamenei. Namun dia enggan memberi rincian lebih lanjut.
"Saya tidak akan menyebutkan namanya. Mari kita selesaikan ini dulu," kata Trump kepada New York Times yang dikutip AFP, Senin.
Iran saat ini dalam proses transisi. Selama kursi pemimpin tertinggi kosong, tugas-tugas jabatan ini dipegang dewan sementara.
Dewan tersebut mencakup Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Mahkamah Agung Gholam Hossein Mohseni Ejei, dan ulama dari Dewan Penjaga Konstitusi Ayatollah Alireza Arafi.
Iran punya mekanisme sendiri dalam memilih pemimpin tertinggi. Pemilihan akan dilakukan badan ulama beranggotakan 88 orang yang disebut Majelis Ahli (Assembly of Expert). Badan ini dipilih publik setiap delapan tahun sekali.
Mereka yang ingin jadi anggota Majelis Ahli harus diperiksa dan disetujui Dewan Penjaga (Guardian Council). Ini adalah badan pengawas yang anggotanya sebagian ditunjuk pemimpin tertinggi.
(isa/dna)

3 hours ago
3















































