Qatar Sebut Minyak Bakal US$150 dan Ekonomi Dunia Jatuh Imbas Perang

7 hours ago 4

Jakarta, CNN Indonesia --

Qatar memperingatkan bahwa perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran dapat menjatuhkan perekonomian dunia.

Menteri Energi Qatar Saad al-Kaabi mengatakan serangan Israel dan AS di kawasan tersebut serta serangan balasan Iran dapat menghentikan seluruh ekspor energi negara-negara Teluk dalam hitungan hari dan mendorong harga minyak hingga US$150 per barel.

"Hal ini akan menjatuhkan perekonomian dunia," kata Saad al-Kaabi kepada Financial Times, dikutip dari Middle East Eye, Jumat (6/3).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jika perang ini berlanjut selama beberapa minggu, pertumbuhan PDB di seluruh dunia akan terdampak. Harga energi semua negara akan naik. Akan terjadi kekurangan sejumlah produk dan akan muncul reaksi berantai ketika pabrik-pabrik tidak dapat memasok barang," imbuhnya.

Serangan Iran sebelumnya telah mendorong Arab Saudi dan Qatar menghentikan produksi di fasilitas minyak dan gas utama.

Dua drone Iran juga dilaporkan menyerang fasilitas energi di kota industri Ras Laffan dan Mesaieed di Qatar pada awal pekan ini, menurut Kementerian Pertahanan Qatar.

Kementerian Pertahanan Qatar kemudian menyatakan telah menembak jatuh dua jet tempur SU-24 yang datang dari Iran.

Tidak ada korban jiwa dalam serangan drone tersebut, tetapi Qatar Energy, produsen gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) terbesar di dunia, mengumumkan telah menghentikan produksi LNG dan produk terkait.

"Semua pihak yang belum menyatakan force majeure kemungkinan akan melakukannya dalam beberapa hari ke depan jika situasi ini berlanjut. Seluruh eksportir di kawasan Teluk harus menyatakan force majeure," ujar Saad al-Kaabi.

"Jika tidak, pada akhirnya mereka bisa menghadapi tanggung jawab hukum atas hal tersebut, dan itu pilihan mereka," jelasnya.

Harga minyak mentah Brent naik 2,5 persen menjadi US$87,6 per barel pada Jumat pagi ini waktu Eropa. Ini merupakan level tertinggi sejak konflik pecah pada Sabtu lalu.

Saad al-Kaabi memprediksi harga minyak mentah dapat melonjak hingga US$150 per barel dalam dua hingga tiga pekan ke depan jika kapal tanker dan kapal dagang lainnya tidak dapat melewati Selat Hormuz akibat gangguan dari Iran.

Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia melewati selat tersebut.

Saad al-Kaabi itu juga memperkirakan harga gas bisa naik hingga US$40 per juta British thermal units (MMBtu). Angka ini hampir empat kali lipat dibandingkan sebelum perang dimulai.

"Selain energi, semua perdagangan lain antara kawasan Teluk dan dunia juga akan terhenti, yang akan berdampak besar pada perekonomian negara-negara Teluk serta seluruh mitra dagang di seluruh dunia," ucapnya.

[Gambas:Video CNN]

(dhz/ins)

Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |