Pijat dan Spa Thailand Mau Naik Kelas: Tak Bisa Digantikan AI

3 hours ago 3

CNN Indonesia

Minggu, 29 Mar 2026 11:50 WIB

Pemerintah Thailand mulai merombak sektor pijat tradisionalnya secara besar-besaran untuk meningkatkan standar layanan dan citra industri tersebut. Pemerintah Thailand mulai merombak sektor pijat tradisionalnya secara besar-besaran untuk meningkatkan standar layanan dan citra industri tersebut. (Pixabay/Mariolh)

Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah Thailand mulai merombak sektor pijat tradisionalnya secara besar-besaran untuk meningkatkan standar layanan, memperbaiki citra global, serta mengatasi praktik 'abu-abu' yang selama ini membayangi industri tersebut.

Langkah ini dilakukan di tengah kebangkitan kembali industri wellness pascapandemi Covid-19 yang membuat negara itu kehilangan puluhan ribu tenaga terapis akibat penutupan bisnis dan peralihan profesi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di Bangkok, pelatihan terapis baru kini semakin diminati. Dalam waktu dua minggu, peserta pelatihan sudah dapat bekerja di sekitar 28 ribu klinik pijat, spa, dan pusat kebugaran di seluruh negeri.

Banyak peserta berasal dari latar belakang non-medis, bahkan ada yang baru pertama kali mengenal dunia pijat.

Salah satu peserta, Darunee Bhumidid, menyebut keterampilan ini sebagai bekal jangka panjang. Ia menilai pijat tradisional Thailand bukan sekadar pekerjaan, tapi juga bagian dari warisan budaya yang perlu dijaga.

Industri ini memang terus berkembang pesat. Data Global Wellness Institute mencatat nilai pasar domestik wellness Thailand mencapai US$42,7 miliar atau setara Rp725,50 triliun (US$1=Rp16.990) pada 2024, tumbuh lebih dari 10 persen secara tahunan.

Sementara itu, sektor wisata wellness mencatat belanja hingga US$14 miliar dengan pertumbuhan jauh di atas rata-rata global.

Kendati, sektor ini masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari standar pelatihan yang tidak merata, pengawasan yang terfragmentasi, hingga citra industri yang belum sepenuhnya konsisten.

Untuk itu, pemerintah melalui Departemen Pengobatan Tradisional dan Alternatif Thailand tengah menyiapkan reformasi menyeluruh. Salah satu fokus utama adalah peningkatan kualitas tenaga kerja melalui sistem sertifikasi berjenjang.

Direktur Institute of Thai Traditional Medicine Rutchanee Chantraket menyebut reformasi ini sebagai titik balik penting bagi industri.

"Kami sedang beralih dari standar lokal menuju standar kelas dunia," ujarnya, seperti diberitakan Channel News Asia pada Minggu (29/3).

Pemerintah juga merancang sistem identitas digital untuk melacak kualifikasi terapis, serta memperluas program pelatihan melalui universitas dan rumah sakit.

Nantinya, jenjang karier akan dibagi menjadi beberapa level, mulai dari praktisi dasar hingga profesional berlisensi dengan pelatihan hingga empat tahun.

Selain itu, istilah 'Nuad Thai' akan lebih dipromosikan untuk memperkuat identitas pijat tradisional Thailand sebagai bagian dari layanan kesehatan, bukan sekadar relaksasi.

Pelaku industri menyambut langkah ini sebagai upaya meningkatkan daya saing. Presiden Thai Spa Association Sunai Wachirawarakarn menilai sentuhan manusia dalam pijat tradisional menjadi keunggulan yang tidak tergantikan oleh teknologi.

"Ini adalah sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh AI. Mesin mungkin bisa membantu otot, tetapi tidak bisa menggantikan sentuhan manusia," ujarnya.

Namun, di balik potensi besar tersebut, industri pijat Thailand masih menghadapi persoalan citra akibat keberadaan layanan ilegal yang mencampurkan praktik pijat dengan aktivitas di luar standar kesehatan.

Sejumlah pelaku usaha menyebut praktik 'abu-abu' ini merusak kepercayaan pelanggan dan merugikan bisnis yang berjalan sesuai aturan. Bahkan, beberapa calon terapis mengaku khawatir memasuki industri ini karena stigma tersebut.

Pemerintah mengakui pengawasan sebelumnya belum optimal dan kini berupaya memperketat regulasi serta memperjelas branding industri.

Di sisi lain, reformasi ini juga berpotensi mendorong kenaikan harga layanan, seiring peningkatan standar dan upah tenaga kerja. Hal ini menjadi perhatian bagi pelaku usaha, terutama di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

Meski begitu, sebagian pelaku industri menilai langkah ini tetap diperlukan untuk memastikan keberlanjutan profesi. Banyak terapis yang menjadi tulang punggung keluarga, sehingga peningkatan kualitas diharapkan sejalan dengan peningkatan kesejahteraan.

(del/end)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |