Darurat Internasional, Ini 5 Fakta Wabah Ebola di Kongo dan Uganda

2 hours ago 6

CNN Indonesia

Senin, 18 Mei 2026 08:15 WIB

WHO menetapkan Ebola di Kongo dan Uganda sebagai darurat internasional. Ketahui berbagai fakta seputar wabah ini. Ilustrasi sampel virus ebola. WHO menetapkan Ebola di Kongo dan Uganda sebagai darurat internasional. Ketahui berbagai fakta seputar wabah ini. (Badru Katumba / AFP)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Pada Minggu (17/5), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendeklarasikan wabah Ebola di Kongo dan Uganda sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional (Public Health Emergency of International Concern/PHEIC).

Wabah yang berasal dari Provinsi Ituri di Kongo ini telah menewaskan hampir 90 orang dan menyebar ke berbagai daerah, termasuk ke Ibu Kota Kongo, Kinshasa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adapun wabah ini melibatkan strain Ebola Bundibugyo yang langka. Sejauh ini, varian ini belum memiliki vaksin atau pengobatan yang disetujui.

Meski dideklarasikan sebagai darurat internasional, wabah ini belum dinyatakan sebagai pandemi oleh WHO karena belum memenuhi kriteria.

Fakta Ebola di Kongo dan Uganda yang jadi darurat internasional

Berikut ini sejumlah fakta mengenai wabah Ebola di Kongo dan Uganda yang jadi darurat internasional:

1. Apa itu Ebola?

Mengutip CNN, Ebola adalah penyakit yang sangat serius dan berpotensi mematikan. Penyakit ini menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi.

Menurut Africa Centres for Disease Control and Prevention (Africa CDC), virus ini juga dapat menyebar melalui kontak dengan bahan yang terkontaminasi atau jenazah penderita Ebola.

Gejala awal biasanya berupa demam, kelelahan, nyeri otot, sakit kepala, dan tenggorokan. Seiring waktu, gejala diikuti muntah, diare, nyeri perut, dan perdarahan internal maupun eksternal.

Ada enam spesies virus Ebola yang dikenal, tetapi hanya tiga yang sering menyebabkan wabah besar, yakni virus Ebola, virus Sudan, dan virus Bundibugyo.

2. Kronologi kemunculan wabah di Kongo

Wabah Ebola pertama kali dilaporkan di provinsi Ituri, Kongo, pada hari Jumat (15/5) di dekat perbatasan Uganda dan Sudan Selatan. Mengutip Aljazeera, hingga Sabtu (16/5) tercatat 88 kematian dan 336 kasus dugaan.

Wabah ini bermula di Mongwalu, sebuah kawasan tambang yang ramai, kemudian menyebar ke luar daerah karena mobilitas penduduk tinggi.

Pasien nol dari wabah ini, yakni seorang perawat yang menunjukkan gejala Ebola saat tiba di fasilitas kesehatan di Bunia, Ibu Kota Ituri, pada 24 April.

Di Uganda, dua kasus terkonfirmasi juga dilaporkan, termasuk satu kematian di Kampala, yang terkait dengan pelancong datang dari Kongo.

3. Makna deklarasi WHO sebagai darurat internasional

WHO menyatakan wabah ini sebagai PHEIC, yang merupakan tingkat peringatan kedua tertinggi dalam regulasi kesehatan internasional. Meski demikian, WHO menegaskan situasi ini belum memenuhi kriteria untuk dinyatakan sebagai pandemi.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut negara-negara tetangga berisiko tinggi terhadap penyebaran lebih lanjut karena mobilitas penduduk dan hubungan perdagangan.

WHO mengimbau agar negara-negara tetangga mengaktifkan sistem penanggulangan darurat, meningkatkan screening lintas batas, dan mengisolasi kasus yang terkonfirmasi.

Mereka juga menyarankan agar kontak erat dipantau secara ketat dan individu yang terpapar menghindari perjalanan internasional selama 21 hari.

4. Seberapa mematikan virus Ebola?

Menurut WHO, tingkat kematian akibat Ebola sangat bervariasi, dari 25 persen hingga 90 persen, tergantung strain dan kondisi penanganan. Rata-rata, tingkat kematian sekitar 50 persen.

Untuk strain Bundibugyo, tingkat kematian diperkirakan antara 25 persen hingga 40 persen, menurut Médecins Sans Frontières (MSF).

Ebola sangat menular, tetapi tidak menyebar melalui udara. Namun virus ini sangat kecil dan dapat menyebabkan infeksi fatal bahkan dengan jumlah yang sangat sedikit.

5. Rekam jejak wabah Ebola

Sejak pertama kali ditemukan di Kongo pada 1976, negara ini telah mengalami setidaknya 17 kali wabah Ebola. Wabah terbesar terjadi antara 2018 hingga 2020, yang menewaskan hampir 2.300 orang.

Beberapa kasus juga dilaporkan di Uganda, dan wabah terakhir tahun lalu menewaskan setidaknya 34 orang sebelum akhirnya dinyatakan berakhir pada Desember.

Sejak penemuan pertama, Ebola telah menewaskan sekitar 15.000 orang, hampir semuanya terjadi di Afrika.

Situasi wabah Ebola di Kongo dan Uganda ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan global dalam menghadapi penyakit menular yang berpotensi menjadi darurat internasional.

Upaya bersama dari negara-negara dan organisasi internasional sangat dibutuhkan untuk mencegah penyebaran yang lebih luas dan menyelamatkan banyak nyawa.

(rti)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |