CNN Indonesia
Senin, 30 Mar 2026 12:15 WIB
Ilustrasi. Kolagen tengah marak belakangan ini, ditandai dengan banyaknya produk suplemen dan makanan di pasaran. Benarkah efektif? (iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kolagen tengah marak belakangan ini, ditandai dengan banyaknya produk suplemen untuk kesehatan dan kecantikan yang beredar di pasaran.
Tidak hanya dalam bentuk suplemen, kolagen kini juga hadir dalam berbagai produk kuliner seperti minuman kolagen (collagen drink), dessert, hingga kaldu tulang yang diklaim kaya kolagen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kolagen adalah protein alami yang diproduksi tubuh dan berperan penting dalam menjaga struktur kulit, elastisitas, serta kekuatan jaringan tubuh.
Melansir dari WebMD, kolagen sendiri memiliki beberapa fungsi bagi tubuh seperti,
- Menjaga kekencangan dan kelembapan kulit
- Mendukung kesehatan sendi dan tulang
- Membantu pembentukan otot
- Mempercepat penyembuhan luka
- Melindungi organ tubuh
Namun, produksi kolagen akan menurun seiring bertambahnya usia. Faktor lain seperti paparan sinar matahari, pola makan, hingga gaya hidup juga dapat mempercepat penurunan tersebut. Inilah yang mendorong banyak orang mengonsumsi suplemen kolagen.
Mengutip dari Independent UK, sebuah penelitian merangkum 16 tinjauan dengan hampir 8.000 partisipan menunjukkan hasil yang cenderung positif, meski tidak sepenuhnya konsisten.
Ilustrasi. Kolagen merupakan protein alami yang diproduksi tubuh untuk menjaga kesehatan kulit. (iStockphoto)
Secara umum, konsumsi suplemen kolagen dikaitkan dengan:
- Peningkatan elastisitas dan hidrasi kulit
- Pengurangan nyeri sendi, terutama pada penderita osteoartritis
- Dukungan terhadap kesehatan otot
Namun, manfaat ini tidak terjadi secara instan. Efeknya cenderung muncul secara bertahap dan membutuhkan konsumsi rutin dalam jangka waktu tertentu.
Di sisi lain, hasil penelitian juga menunjukkan variasi. Studi yang lebih baru menemukan peningkatan hidrasi kulit yang lebih signifikan, tetapi efek pada elastisitas justru lebih rendah. Hal ini menandakan bahwa penelitian tentang kolagen masih terus berkembang.
Salah satu faktor yang memengaruhi efektivitas kolagen adalah jenis dan bentuknya.
Kolagen dalam suplemen umumnya berbentuk hydrolysed collagen atau peptida kolagen, yaitu protein yang telah dipecah menjadi ukuran lebih kecil agar lebih mudah diserap tubuh.
Sementara itu, kolagen dari makanan biasa belum tentu terserap dengan efisiensi yang sama.
Selain itu, sumber kolagen juga beragam, mulai dari hewan (sapi, ayam, babi), sumber laut (ikan, ubur-ubur, kerang), alternatif berbasis tumbuhan (vegan collagen booster)
Perbedaan sumber dan proses pengolahan ini membuat kualitas serta efektivitas tiap produk bisa sangat bervariasi.
Efektivitas kolagen tidak hanya ditentukan oleh suplemen yang dikonsumsi, tetapi juga gaya hidup seseorang.
Paparan sinar matahari, kebiasaan merokok, kualitas tidur, hingga pola makan sehari-hari turut memengaruhi kondisi kulit dan jaringan tubuh. Artinya, manfaat kolagen bisa berbeda pada setiap individu.
Di Indonesia sendiri, kolagen tidak hanya terbatas pada produk kesehatan. Berbagai kafe dan brand kuliner mulai menghadirkan menu berbasis kolagen, seperti minuman kolagen, sup tulang, hingga dessert yang diklaim baik untuk kulit.
Meski sejumlah penelitian menunjukkan manfaat kolagen, para ahli menekankan bahwa bukti ilmiah yang ada masih memiliki keterbatasan.
Banyak studi yang dinilai memiliki kualitas rendah, dengan metode yang beragam serta jumlah partisipan yang terbatas. Hal ini membuat kesimpulan jangka panjang serta manfaatnya masih perlu diteliti lebih lanjut.
(nga/fef)
Add
as a preferred source on Google

3 hours ago
6

















































