CNN Indonesia
Senin, 18 Mei 2026 12:45 WIB
Area Binario 21 dalam Stasiun Centrale Milano, Milan, Italia. (Settimioma via Wikimedia Commons (CC-BY-SA-4.0))
Jakarta, CNN Indonesia --
Bangunan megah dengan pilar-pilar bergaya Romawi, patung kuda bersayap, kepala singa, hingga ukiran gargoyle menyambut siapa saja yang tiba di Stasiun Centrale Milano, Italia.
Bagi banyak wisatawan, stasiun utama Kota Milan ini bukan sekadar tempat transit, melainkan destinasi wisata yang memamerkan kemegahan arsitektur khas Eropa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Stasiun Centrale dari luar tampak seperti simbol kejayaan Italia. Interiornya pun tak kalah spektakuler. Tangga besar membawa penumpang menuju aula keberangkatan dengan lantai mosaik dan dinding pahatan artistik.
Seperti dilansir dari CNN Travel, sebanyak 21 peron aktif melayani ratusan ribu penumpang setiap hari di salah satu stasiun terbesar di Eropa itu. Namun di balik kemegahan tersebut, tersimpan sejarah kelam selama puluhan tahun.
Di bawah hiruk-pikuk penumpang dan suara kereta, terdapat area bawah tanah bernama Binario 21 atau Peron 21. Tempat tersembunyi inilah yang dahulu digunakan rezim Nazi dan kelompok fasis untuk mendeportasi ribuan orang Yahudi serta tahanan politik menuju kamp kematian pada Perang Dunia II.
Stasiun Milano Centrale mulai dibangun pada 1912 berdasarkan rancangan arsitek Ulise Stacchini. Desainnya menggabungkan berbagai gaya, mulai dari Romawi kuno, Mesir, art deco, hingga gaya liberty yang populer di Italia pada awal abad ke-20.
Namun, pembangunan stasiun berlangsung di tengah naiknya kekuasaan Benito Mussolini. Ketika akhirnya diresmikan pada 1931, rezim fasis Italia ikut menambahkan simbol-simbol kekuasaan mereka ke dalam desain bangunan.
Salah satunya adalah lambang fasces, simbol Romawi kuno berupa kumpulan tongkat yang kemudian menjadi akar kata fasisme. Simbol tersebut masih dapat ditemukan di beberapa bagian fasad stasiun hingga kini.
Pada masa itu, Milano Centrale dijadikan lambang kekuatan dan modernitas Italia di bawah pemerintahan Mussolini.
Tak banyak yang mengetahui bahwa stasiun ini dibangun dengan dua tingkat berbeda. Area atas digunakan untuk penumpang, sementara bagian bawah diperuntukkan bagi pengiriman barang dan surat.
Di ruang bawah tanah itulah terdapat dua jalur rahasia, lengkap dengan sistem elevator besar untuk mengangkut gerbong menuju rel utama di atas. Awalnya, sistem tersebut dirancang untuk mempermudah distribusi logistik tanpa mengganggu aktivitas penumpang.
Namun, ketika Nazi menduduki Italia utara pada 1943, area itu berubah fungsi menjadi tempat deportasi manusia.
Pada malam hari, truk-truk membawa tahanan Yahudi dan lawan politik menuju ruang bawah tanah stasiun. Mereka kemudian dimasukkan ke gerbong kayu tertutup sebelum diangkut menuju kamp kematian seperti Auschwitz dan Mauthausen.
Proses deportasi dilakukan secara diam-diam agar tidak terlihat publik. Diperkirakan ribuan orang diberangkatkan dari Binario 21 antara Desember 1943 hingga Januari 1945.
Gerbong yang digunakan sebelumnya dipakai untuk mengangkut barang. Dalam satu gerbong, sekitar 60 hingga 80 orang dipaksa berdiri berhimpitan tanpa ruang duduk, tanpa ventilasi memadai, tanpa makanan, dan tanpa air. Perjalanan menuju Auschwitz bahkan bisa memakan waktu hingga tujuh hari.
Sebagian besar korban tidak pernah kembali. Data yang tersisa menunjukkan dari 774 orang dalam dua konvoi pertama menuju Auschwitz, hanya 27 orang yang selamat.
Tak hanya orang Yahudi, banyak tahanan politik, pekerja pabrik, pejuang anti-fasis, hingga anggota perlawanan Italia turut dideportasi melalui stasiun tersebut.
Selama puluhan tahun setelah perang berakhir, kisah Binario 21 nyaris tidak diketahui publik. Banyak penyintas hanya mengingat bahwa mereka dibawa ke tempat seperti gua bawah tanah sebelum kereta bergerak.
Salah satu kesaksian datang dari Liliana Segre, penyintas Holocaust yang dideportasi dari Milano Centrale menuju Auschwitz saat berusia 13 tahun bersama ayahnya pada Januari 1944.
Kesaksian para penyintas inilah yang akhirnya membantu para peneliti menemukan kembali area bawah tanah tersebut pada 1994. Mereka menemukan elevator besar dan jalur tersembunyi yang selama ini tertutup dari publik.
Area Binario 21 dalam Stasiun Centrale Milano, Milan, Italia. (AFP/GIUSEPPE CACACE)
Area Binario 21 kini diubah menjadi Memoriale della Shoah di Milano, memorial holocaust Kota Milan yang dibuka untuk umum sejak 2013.
Pengunjung dapat berjalan menyusuri peron bawah tanah, melihat langsung gerbong kayu asli era perang, hingga mendengarkan rekaman kesaksian para penyintas Holocaust.
Nama-nama korban deportasi juga diproyeksikan di dinding memorial sebagai pengingat bahwa tragedi tersebut menimpa manusia nyata, bukan sekadar angka dalam sejarah.
Bagi Italia, Binario 21 bukan sekadar situs sejarah perang. Tempat ini menjadi pengingat tentang keterlibatan rezim fasis Italia dalam tragedi Holocaust.
Selama bertahun-tahun, banyak masyarakat Italia lebih sering melihat diri mereka sebagai korban perang dibanding bagian dari sistem yang turut memungkinkan deportasi massal terjadi.
Oleh karena itu, memorial ini dianggap penting untuk mengingatkan generasi baru bahwa tragedi bisa terjadi di tempat yang tampak biasa.
Ribuan orang lalu-lalang mengejar kereta dan perjalanan mereka masing-masing di atas. Namun di bawah stasiun megah tersebut, tersimpan kisah ketakutan, kehilangan, dan ribuan nyawa yang pernah diberangkatkan menuju kematian.
(nga/asr)
Add
as a preferred source on Google

1 hour ago
5

















































