Jakarta, CNN Indonesia --
Muhammad Darwis--kelak dikenal sebagai KH Ahmad Dahlan--membawa semangat tajdid (pembaruan) ketika banyak kalangan masih terpaku pada pemahaman keagamaan yang sempit dan tradisional di pergantian abad ke-19 dan ke-20.
Ia mendirikan organisasi Muhammadiyah pada 1912 yang bertahan dan menjadi besar hingga kini.
Di awal menyiarkan gerakan pembaruan selepas kembali dari Tanah Suci Mekkah, Dahlan Sang Pencerah menghadapi banyak rintangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa di antaranya saat ingin membetulkan arah kiblat hingga masjidnya dihancurkan, hingga 'diserang' karena mengajarkan pengetahuan umum di sekolah agama.
Cendekiawan Alwi Shihab dalam buku Membendung Arus (1998) mencatat sejumlah faktor utama yang mendorong kelahiran Muhammadiyah: Pengaruh gagasan pembaruan Islam pada awal abad ke-20, respons atas pertentangan ideologis yang telah lama berlangsung dalam masyarakat Jawa, reaksi atas penetrasi misi kristen, dan semangat antipenjajahan.
Negara kemudian mengakuinya sebagai Pahlawan Nasional pada 1961.
Darwis menjadi Dahlan
Darwis--atau kelak KH Ahmad Dahlan--adalah putra dari Imam dan Katib Masjid besar Kauman Yogyakarta, KH Abu Bakar. Sementara ibunya, Siti Aminah adalah putri dari Penghulu di Kesultanan Yogyakarta, H Ibrahim bin Hasan.
KH Ahmad Dahlan adalah putra keempat dari tujuh bersaudara. Dia masih keturunan dari Sunan Giri (Muhammad Ainul Yaqin) dan Sunan Gresik (Syekh Maulana Malik Ibrahim/Syekh Magribi).
Saat usianya baru memasuki 15 tahun, Dahlan sudah ke tanah suci Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Selama 5 tahun bermukim di sana, dia mempelajari pemikiran-pemikiran para pembaharu Islam di kawasan hijaz tersebut.
Sepulangnya ke nusantara pada 1888, Darwis yang kembali ke Kauman--kampung halamannya--berganti nama menjadi Ahmad Dahlan seperti yang dikenal sekarang.
Pada masa muda, Darwis alias Dahlan berguru dari kakak-kakak iparnya yakni Kiai Haji Lurah Muhammad Noer, KH Muhammad Saleh, dan Kiai Haji Muhsin.
Kakak iparnya, KH Saleh, bahkan yang menyusulnya ke kereta untuk menguatkannya tetap istikamah bersama Muhammadiyah setelah musola atau suraunya, Langgar Kidul, dirubuhkan dengan tuduhan sesat. Kala itu, Dahlan bersama istrinya, Siti Walidah binti Kiai Penghulu Haji Fadhil, bermaksud meninggalkan Yogyakata.
"Turun Dahlan, Kamu tidak boleh pergi," ujar Kiai Saleh kepada KH Ahmad Dahlan di Stasiun Tugu, seperti dikutip dari Suara Muhammadiyah.
"Kita dirikan surau baru. Sekarang pulang," imbuhnya.
Muhammadiyah dan gerakan pembaharuan Islam
Mengutip dari laman resmi PP Muhammadiyah, pendirian organisasi itu bermula dari sekolah rakyat bernama Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah yang dikelola Ahmad Dahlan di salah satu ruang rumahnya di Yogyakarta.
Mulanya ada sembilan santri yang menjadi murid Dahlan di madrasah tersebut.
Seiring waktu, kemudian santri dan muridnya mendorong Ahmad Dahlan membentuk organisasi yang menjaga keberlangsungan madrasah itu.
"Dalam Statuten atau Anggaran Dasar Muhammadiyah yang diajukan kepada Pemerintah Hindia-Belanda disebutkan bahwa tanggal berdiri organisasi ini adalah 18 November 1912," demikian diwartakan di laman Muhammadiyah.
Kemudian pada 22 Agustus 1941, Muhammadiyah diakui sebagai badan hukum oleh pemerintah kolonialisme Belanda.
Perlawanannya lewat dunia pendidikan juga dapat dilihat dari ketidakpuasan dirinya ketika melihat adanya dualisme sistem pendidikan, yaitu sistem pendidikan Islam yang berbasis di pesantren-pesantren dan sistem pendidikan sekuler (Barat) yang berbasis di sekolah-sekolah yang dikelola pemerintah kolonial Belanda.
Setelah Kongres Boedi Oetomo di rumah KH Ahmad Dahlan pada 1917, pendiri Muhammadiyah itu menyatakan agar organisasi itu tak cuma ada di Yogyakata, tetapi juga di seluruh Jawa dan berbagai tempat nusantara.
Akhirnya permohonan izin pun diajukan, dan kemudian disetujui pemerintah kolonial beberapa waktu kemudian.
Seiring berkembangnya waktu, Muhammadiyah semakin berkembang pesat. Perkembangannya membuat Dahlan juga tergerak untuk mendirikan Aisyiyah untuk memajukan kaum perempuan.
Setelah mendapat izin pada 1921, cabang Muhammadiyah mulai berdiri di berbagai daerah di Nusantara.
Pesatnya perkembangan Muhammadiyah menimbulkan kekhawatiran dan dianggap ancaman oleh Pemerintah Belanda.
Namun, Dahlan lebih memilih pendidikan sebagai cara untuk melawan kolonialisme Belanda. Menurutnya pendidikan adalah alat untuk dakwah amar makruf nahi munkar. Sebuah konsep untuk mengajak perbuatan baik dan mencegah perbuatan buruk.
Selain Aisyiyah, Kh Ahmad Dahlan juga mendirikan gerakan kepanduan bernama Hizbul Wathan pada 1918, membentuk Bagian Penolong Haji, dan membangun musala khusus untuk perempuan yang pertama di nusantara kala itu.
Dalam buku KH Ahmad Dahlan Si Penyantun (2018), ditulis bahwa perjuangannya membangun pendidikan dan organisasi Muhammadiyah tak lepas dari perkembangan pemikiran di Timur Tengah, terutama dari Muhammad Abduh.
"Bedanya Ahmad Dahlan melalui Muhammadiyah mampu melebarkan jalan dakwanya ke berbagai aspek kehidupan. Tidak hanya menjangkau kaum terdidik yang melek aksara, melainkan kaum miskin-kota yang melarat pun dirangkul," demikian ditulis dalam buku karya Imron Mustofa tersebut.
Ahmad Dahlan menangkap semangat pembaruan tersebut dalam bentuk nyata berupa pembentukan organisasi. Bukan cuma dakwah-termasuk lewat percetakan Suara Muhammadiyah-tetapi juga bidang pendidikan formal, kesehatan, dan sosial pun digarap.
"Berdasar pada surat [Alquran] Ali Imran ayat 104, ia mendirikan Muhammadiyah dengan harapan bisa melakukan tugas agama yaitu amar ma'ruf nahi munkar. Semangatnya dalam berdakwah dan keberpihakannya pada mustadh'afin (orang-orang lemah) telah melahirkan berbagai fasilitas publik seperti rumah sakit, panti asuhan, dan sekolah: sebuah gebrakan yang pada masanya dianggap menyimpang, karena dianggap meniru gaya barat dan agama Kristen," demikian ditulis dalam buku Si Penyantun.
KH Ahmad Dahlan memimpin Muhammadiyah sejak tahun 1912 hingga wafat pada 1923. Ia meninggal dunia di usia 54 tahun. Jenazahnya dimakamkan di kampung halamannya, Yogyakarta.
Setelah Dahlan meninggal, kepemimpinan Muhammadiyah dilanjutka KH Ibrahim hingga 1931. Setelah KH Ibrahim hingga kini, Muhammadiyah telah dipimpin 12 ketua umum yang dipilih lewat muktamar, termasuk Prof KH Haedar Nashir saat ini.
Tulisan ini adalah rangkaian dari kisah ulama, tokoh, dan cendekiawan muslim yang menjadi Pahlawan Nasional Indonesia yang diterbitkan CNNIndonesia.com pada Ramadan 1447 Hijriah
(fam/kid)

2 hours ago
2
















































