Risiko IQ Rendah Bayi Prematur, Pelukan Ibu Jadi Kunci Kesehatan Otak

4 hours ago 7

CNN Indonesia

Minggu, 10 Mei 2026 02:00 WIB

Kelahiran prematur berdampak permanen pada struktur otak. Namun, sentuhan orang tua dan ASI menjadi 'obat' terbaik untuk masa depan si kecil. Ilustrasi. Bayi prematur berisiko mengalami perkembangan otak yang terhambat. (iStock/Kwangmoozaa)

Jakarta, CNN Indonesia --

Kelahiran prematur bukan sekadar perkara bayi yang lahir 'lebih cepat'. Di balik tubuh mungilnya yang berjuang di dalam inkubator, ada perkembangan organ vital yang terhenti sebelum waktunya, terutama otak.

Melansir Stanford Medicine, riset terbaru mengungkap bahwa bayi yang lahir prematur memiliki risiko gangguan kognitif (IQ) lebih rendah hingga potensi gangguan psikiatrik saat beranjak dewasa.

Hal ini dipicu oleh perubahan fisik permanen pada struktur otak yang terbawa hingga usia produktif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Studi kolaboratif dari Stanford, Yale, dan Brown University menemukan bahwa pada usia 8 tahun, anak-anak yang lahir prematur memiliki volume otak yang lebih kecil dibandingkan anak yang lahir cukup bulan. Pengurangan volume ini terjadi pada area cerebral cortex yang bertanggung jawab atas kemampuan membaca, bahasa, emosi, dan perilaku.

"Ini seperti kita melihat gema atau 'echo' dari ledakan besar kelahiran prematur bahkan saat anak sudah berusia 8 tahun," ujar Allan Reiss, profesor dari Stanford University.

Data menunjukkan bahwa bayi laki-laki prematur cenderung lebih rentan mengalami gangguan ini dibandingkan bayi perempuan. Hal ini diduga karena faktor genetik, bayi perempuan memiliki dua kromosom X yang memberikan perlindungan tambahan terhadap stres lingkungan saat lahir prematur.

Otak belum matang

Secara medis, otak bayi mencapai kematangan ideal pada usia kehamilan 37 minggu. Jika lahir sebelumnya, perkembangan otak di dalam rahim terputus.

"Otak bayi prematur itu belum matang. Masih licin, masih kosong ibaratnya," jelas I Gusti Nyoman Partiwi yang menjabat sebagai Ketua SMF Anak RSIA Bunda Jakarta dalam keterangannya.

Kondisi ini diperparah dengan risiko peradangan (inflammation) dan stres oksidatif yang merusak white matter, yakni jaringan saraf yang berfungsi sebagai kabel komunikasi antar wilayah otak.

Akibatnya, proses berpikir eksekutif, regulasi emosi, hingga kemampuan perencanaan bisa terganggu secara permanen hingga dewasa.

Inkubator terbaik adalah dada ibu

Meski tantangan medis terlihat berat, teknologi bukan satu-satunya jawaban dokter yang akrab disapa Tiwi itu juga menekankan bahwa fungsi orang tua tidak bisa digantikan oleh mesin secanggih apa pun.

"Inkubator yang paling bagus itu dada ibunya. Pelukan ibunya," tegas Tiwi.

Di unit perawatan intensif bayi (NICU) modern, orang tua kini dilibatkan sebagai bagian integral, bukan sekadar pengamat. Metode Kangaroo Mother Care (KMC) atau perawatan metode kanguru menjadi kunci.

Suara detak jantung dan napas ibu saat berpelukan adalah rangsangan sensorik yang membantu otak bayi berkembang, meniru kondisi di dalam rahim.

Selain pelukan, ASI menjadi fondasi kesehatan jangka panjang bayi prematur. Menariknya, komposisi ASI ibu yang melahirkan prematur secara alami berbeda dengan ibu yang melahirkan cukup bulan.

Nutrisi di dalamnya telah terprogram oleh alam untuk memenuhi kebutuhan spesifik bayi prematur, baik untuk imunitas maupun perkembangan jaringan lemak di otak.

Dukungan emosional dan nutrisi alami ini diharapkan menjadi 'surfaktan' bagi otak, sebuah agen pelindung yang membantu mematangkan organ sebelum waktunya.

Kelahiran prematur memang memberikan langkah awal yang berbeda, namun dengan keterlibatan aktif orang tua sejak di NICU, risiko gangguan saraf dapat dimitigasi demi masa depan anak yang lebih sehat.

(tis/tis)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |