Jakarta, CNN Indonesia --
Lebih dari 80 fasilitas energi di kawasan Teluk dilaporkan rusak akibat eskalasi konflik Iran dalam beberapa pekan terakhir. Kerusakan tersebut menimbulkan kerugian yang ditaksir hingga puluhan miliar dolar AS.
Firma konsultan energi, Rystad Energy memperkirakan total kerusakan infrastruktur energi akibat perang Iran mencapai US$34 miliar hingga US$58 miliar, atau setara Rp582,7 triliun hingga Rp994 triliun (kurs Rp17.140), mengutip CNBC.
Serangan terjadi sejak konflik pecah pada 28 Februari, melibatkan aksi saling serang antara Iran dengan Israel serta Amerika Serikat. Target utama mencakup fasilitas produksi minyak, kilang, hingga jaringan pipa gas di berbagai negara kawasan Teluk.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA) Fatih Birol menyebutkan lebih dari sepertiga dari total fasilitas yang diserang mengalami kerusakan parah.
"Ini menjadi salah satu isu paling krusial dan berbeda dari sebelumnya. Banyak fasilitas mengalami kerusakan berat," kata Birol dalam sebuah forum di Washington.
Ia memperkirakan proses perbaikan hingga pemulihan produksi minyak dan gas ke level sebelum perang bisa memakan waktu hingga dua tahun.
Secara terpisah, analis Rystad Energy menyebut besaran biaya perbaikan masih berpotensi berubah, bergantung pada tingkat kerusakan struktural di masing-masing fasilitas. Selain itu, kebutuhan peralatan dalam jumlah besar juga diperkirakan akan menekan rantai pasok energi global.
Iran disebut menjadi negara yang mengalami kerusakan terbesar, dengan estimasi biaya perbaikan mencapai US$19 miliar. Namun, negara-negara Teluk lainnya juga terdampak signifikan.
Qatar misalnya, menghadapi kerugian besar setelah fasilitas gas alam cair (LNG) utamanya diserang. Perusahaan energi milik negara, QatarEnergy memperkirakan kerusakan tersebut dapat menyebabkan kehilangan pendapatan hingga US$20 miliar dan membutuhkan waktu hingga lima tahun untuk pemulihan penuh.
Selain Qatar, serangan juga menyasar infrastruktur energi di Arab Saudi, Kuwait, dan Uni Emirat Arab, termasuk jaringan pipa, kilang, serta fasilitas produksi minyak dan gas.
Eskalasi serangan meningkat setelah Israel membombardir kompleks gas South Pars di Iran pada pertengahan Maret, yang kemudian dibalas Teheran dengan menyerang fasilitas LNG besar di Qatar.
Konflik ini dinilai memperburuk ketidakpastian pasokan energi global, sekaligus meningkatkan tekanan terhadap harga minyak dan gas dunia.
(lau/ins)
Add
as a preferred source on Google

4 hours ago
6
















































