Harga Minyak Dunia Naik, Purbaya Ancang-ancang Pangkas Anggaran

5 hours ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap pemerintah tengah menyiapkan langkah efisiensi anggaran menyusul fluktuasi harga minyak dunia yang terus terjadi.

Purbaya mengatakan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah meminta kementerian dan lembaga teknis menyiapkan daftar program yang anggarannya dapat dipotong, termasuk besaran persentase pemangkasan yang memungkinkan dilakukan.

"Ada tadi didiskusikan tadi kalau memang harga naik terus kan itu langkah pertama efisiensi. Kita sudah persiapkan langkah-langkah yang diperlukan," ujar Purbaya di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Senin (16/3).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan saat ini terdapat sejumlah program yang memiliki tambahan anggaran belanja tambahan (ABT), sehingga membuat alokasi anggaran membengkak.

Dalam kondisi sekarang, pemerintah akan lebih memprioritaskan anggaran yang ada. Jadi, untuk ABT, akan ditunda terlebih dahulu hingga kondisi fiskal dinilai lebih memungkinkan.

"Kita fokus ke anggaran yang ada, maksimalkan anggaran yang ada. Nanti mungkin dalam seminggu ke depan Kementerian Keuangan akan menentukan langkah awal mereka (kementerian dan lembaga teknis) untuk siap-siap," ujar Purbaya.

Mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu belum mengungkapkan jumlah anggaran yang berpotensi dipangkas.

Menurut dia, langkah utama yang dilakukan pemerintah saat ini adalah menjaga agar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap terkendali.

"Belum (ada angkanya). Jadi kita pertama jaga APBN terkendali. Nanti kalau enggak bisa lagi, harganya (minyak dunia) enggak terkendali, ya kita kerjakan yang lain," ucap Purbaya.

Di tengah harga minyak dunia yang sedang meningkat, Purbaya menilai kecil kemungkinan harga akan melonjak hingga US$150 per barel.

Menurut dia, perekonomian global tidak akan mampu menahan harga minyak yang terlalu tinggi karena berpotensi memicu resesi di banyak negara.

Ia mencontohkan pada 2013 harga minyak dunia sempat menembus sekitar US$150 per barel. Namun setelah itu harganya anjlok hingga sekitar US$15 per barel sebelum kembali naik ke kisaran US$25 pada periode 2017 hingga 2018.

"Harusnya para juragan minyak juga mengerti akan itu. Dia enggak akan naik ke level yang terlalu tinggi yang menyebabkan resesi global. Kenapa? Akhirnya dia rugi banyak," ujar Purbaya.

[Gambas:Video CNN]

(dhz/sfr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |