CEO Ini Sebut Work Life Balance Sebagai 'Red Flag', Apa Iya?

2 hours ago 8

CNN Indonesia

Rabu, 06 Mei 2026 20:15 WIB

Keinginan untuk work life balance disebut sebagai 'red flag' oleh seorang CEO perusahaan global. Namun, benarkah bekerja tanpa batas justru lebih ideal? Ilustrasi. Keinginan untuk work life balance disebut sebagai 'red flag' oleh seorang CEO perusahaan global. (iStock/Edwin Tan)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Keinginan untuk work life balance disebut sebagai 'red flag' oleh seorang CEO perusahaan global. Namun, benarkah bekerja tanpa batas justru lebih ideal?

CEO perusahaan perawatan kesehatan terbesar di dunia, Inaki Ereno menyebut bahwa jika seseorang terus memikirkan keseimbangan hidup dan kerja, kemungkinan ada yang tidak beres dengan pekerjaannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ketika keseimbangan hidup Anda menjadi topik pembicaraan, makan Anda memiliki masalah," kata Ereno, seperti dikutip dari Fortune.

Menurutnya, ketika seseorang benar-benar menikmati pekerjaannya, batas antara kerja dan kehidupan menjadi hilang, bahkan tidak lagi terasa sebagai beban.

"Anda perlu menyukai pekerjaan Anda, sehingga tidak merasa bahwa hidup Anda perlu diseimbangkan," jelasnya.

Menurutnya, memisahkan pekerjaan dari kehidupan pribadi dengan batas waktu seperti pukul 17.00 tidak masuk akal jika seseorang benar-benar mencintai apa yang dilakukan.

Sehingga, jika seseorang terus menerus menghitung waktu agar segera mengakhiri hari, itu mungkin pertanda bahwa ada sesuatu yang tidak klop.

Sejumlah tokoh dunia seperti CEO Nvdia, Jensen Huang hingga mantan Presiden AS Barack Obama juga pernah menyampaikan bahwa untuk mencapai kesuksesan besar, ada fase hidup di mana seseorang harus bekerja tanpa henti.

Bahaya kerja dan kehidupan pribadi yang tak seimbang

Namun, apa yang berhasil bagi segelintir orang pada karier mereka belum tentu relevan atau sehat bagi semua orang.

Menukil dari Meavo, bekerja tanpa keseimbangan justru bisa berdampak buruk, baik secara fisik maupun mental.

1. Risiko burnout dan kelelahan kronis

[Gambas:Video CNN]

Bekerja terus-menerus tanpa jeda dapat memicu burnout kondisi kelelahan emosional, mental, dan fisik akibat stres berkepanjangan.

Sekitar 50 persen dari semua karyawan saat ini mengalami burnout dan angka ini bahkan lebih tinggi pada populasi yang lebih muda.

2. Gangguan kesehatan mental dan fisik

Tekanan kerja yang berlebihan tanpa waktu pemulihan dapat meningkatkan risiko kecemasan dan depresi. Tanpa ruang untuk istirahat, otak terus berada dalam mode siaga, yang menguras energi psikologis.

Selain kesehatan mental, kesehatan fisik juga dapat berpengaruh seperti, kurang tidur, pola makan tidak teratur, hingga minim aktivitas fisik. Jika terus menerus, hal ini dapat meningkatkan risiko penyakit seperti jantung dan stroke.

Bekerja lebih lama tidak selalu berarti lebih produktif. Kelelahan justru menurunkan kemampuan fokus, kreativitas, dan pengambilan keputusan.

Ketidakseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi dapat menjadi salah satu hal yang paling merusak. Sekitar 72 persen orang tidak bahagia dengan keseimbangan pekerjaan dan kehidupan pribadi mereka saat ini.

Alih-alih melihat work-life balance sebagai red flag, konsep ini justru harus dilihat sebagai kebutuhan dasar terutama di era yang serba cepat dan penuh tekanan.

Bagi sebagian orang, pekerjaan memang bisa menjadi sumber kebahagiaan. Namun, bagi banyak lainnya, batas yang sehat justru menjadi cara untuk bertahan dan berkembang dalam jangka panjang.

(nga/asr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |