Amnesty International Cap Putin, Trump, dan Netanyahu Predator Rakus

6 hours ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Lembaga Hak Asasi Manusia Amnesty International blak-blakan mencap tiga pemimpin negara yakni Vladimir Putin, Donald Trump, dan Benjamin Netanyahu sebagai "predator rakus."

Amnesty International menggambarkan tiga pemimpin itu berniat merebut dominasi ekonomi dan politik dengan segala cara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Presiden Rusia, Amerika Serikat, dan Perdana Menteri Israel tersebut dinilai Amnesti International memimpin penghancuran masif hak asasi manusia secara global.

"Lingkungan global di mana keganasan primitif dapat berkembang telah lama terbentuk," tulis kepala kelompok hak asasi manusia global Agnes Callamard, dalam laporan tahunan tentang kondisi hak asasi manusia dunia yang dirilis pada hari Selasa.

Ia menilai Trump, Netanyahu dan Putin telah memberikan dampak mengerikan yang "sangat dramatis" bagi dunia.

Callamard menganggap kelakuan mereka "memberi inspirasi semua pihak yang tergoda untuk melakukan perilaku serupa."

"Hal ini memungkinkan terjadinya peniru yang berlipat ganda di seluruh dunia, dan oleh karena itu apa yang kita hadapi sekarang jauh lebih agresif dan ganas daripada apa yang harus kita hadapi tiga atau empat tahun yang lalu," katanya.

Ia menambahkan bahwa pada 2025 "terjadi perubahan haluan tajam dari tatanan internasional yang telah dibayangkan dari puing-puing kekejaman Holocaust dan kehancuran total perang dunia, dan dibangun secara perlahan dan menyakitkan, meskipun tidak memadai, selama 80 tahun terakhir."

Callamard mengatakan bahwa sebagian besar pemerintah cenderung menenangkan "predator" daripada menghadapi mereka.

"Beberapa bahkan berpikir untuk meniru para penindas dan penjarah ini," kata Callamard pada konferensi pers di London, dikutip dari Al Jazeera.

Hanya Spanyol yang merupakan pengecualian di Eropa, berani maju sebagai pengkritik terhadap Israel yang melakukan genosida terhadap warga Palestina dan serangan AS atas Iran.

"(Spanyol) berani berdiri di atas standar ganda yang menghancurkan sistem internasional," ungkap Callamard.

Praktik-praktik otoritarian

Amnesty International kemudian menggarisbawahi kondisi hak asasi manusia di dunia yang kini amat suram.

Mereka mendokumentasikan serangan terhadap kebebasan sipil fundamental di sebagian besar negara yang semakin intensif dan menyebar cepat.

"Praktik otoriter telah meningkat di seluruh dunia," demikian bunyi laporan tersebut.

Laporan itu kemudian menjabarkan dugaan pelanggaran di berbagai negara dari Afghanistan hingga Zimbabwe dalam 400 halaman.

Genosida Israel di Gaza, "kejahatan terhadap kemanusiaan" Rusia di Ukraina, dan perang AS-Israel terhadap Iran dicatat sebagai contoh konflik di mana hukum internasional telah diabaikan.

(bac)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |