Jakarta, CNN Indonesia --
Lima menteri keuangan Uni Eropa menyerukan penerapan pajak atas keuntungan tak terduga (windfall profits) kepada perusahaan energi, sebagai reaksi atas melonjaknya harga bahan bakar akibat perang Iran.
Hal ini tertuang dalam surat para menteri kepada Komisi Uni Eropa yang dilihat Reuters pada Sabtu (4/4).
Menteri keuangan dari Jerman, Italia, Spanyol, Portugal, dan Austria kompak mengajukan seruan tersebut dalam surat yang dibuat Jumat (3/4), yang menyatakan bahwa langkah semacam itu akan menjadi sinyal bahwa "kita bersatu dan mampu mengambil tindakan".
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini juga akan mengirimkan pesan yang jelas bahwa mereka yang meraup untung dari dampak perang harus memainkan peran mereka untuk meringankan beban masyarakat umum," tulis menteri-menteri tersebut.
Harga minyak dan gas telah melonjak sejak serangan AS-Israel ke Iran dimulai pada 28 Februari. Kondisi tersebut menciptakan guncangan harga yang serupa dengan krisis energi yang dialami Eropa setelah Rusia menginvasi Ukraina pada 2022. Di sisi lain, negara-negara UE kini memperoleh lebih banyak energi dari sumber terbarukan.
Distorsi Pasar
Dalam surat yang ditujukan kepada Komisaris Iklim UE Wopke Hoekstra para menteri merujuk pada pajak darurat serupa pada 2022 untuk mengatasi tingginya harga energi.
"Mengingat distorsi pasar dan kendala fiskal saat ini, Komisi Eropa harus segera mengembangkan instrumen kontribusi serupa di seluruh UE yang didasarkan pada landasan hukum yang kuat," tulis mereka.
Surat tersebut tidak merinci berapa besaran pajak windfall yang diusulkan para menteri, atau perusahaan mana saja yang harus dikenakan pajak tersebut.
Benua Biru pada Selasa (31/3) juga tengah mempertimbangkan untuk menghidupkan kembali langkah-langkah krisis energi yang digunakan pada 2022, termasuk proposal untuk membatasi tarif jaringan dan pajak listrik.
Uni Eropa memperkenalkan serangkaian kebijakan darurat pada 2022 setelah Rusia memutus pengiriman gas. Kebijakan tersebut mencakup batas harga gas di seluruh UE, pajak atas keuntungan tak terduga perusahaan energi, dan target untuk menekan permintaan gas.
Ketergantungan besar Eropa pada bahan bakar impor membuat Benua Biru rentan terhadap dampak konflik Timur Tengah, khususnya terkait harga energi global. Adapun harga gas Eropa telah naik lebih dari 70 persen sejak perang AS-Israel dengan Iran dimulai pada 28 Februari.
Di sisi lain, Komisaris Energi UE Dan Jorgensen mengatakan Brussel sangat mengkhawatirkan pasokan produk minyak sulingan Eropa dalam jangka pendek, seperti bahan bakar jet (avtur) dan diesel.
(ins)
Add
as a preferred source on Google

3 hours ago
2
















































