Tren 'Chinamaxxing', Kala Gaya Hidup China Dianggap Keren oleh Gen Z

3 hours ago 2

CNN Indonesia

Kamis, 09 Apr 2026 16:15 WIB

Tren 'Chinamaxxing' tengah populer di media sosial. Tren ini mengadopsi gaya hidup masyarakat China yang cenderung lebih pelan. Ilustrasi. Tren 'Chinamaxxing' populer dengan mengadopsi gaya hidup masyarakat China yang relatif lebih kalem. (REUTERS/ALY SONG)

Jakarta, CNN Indonesia --

Belakangan ini, minum air hangat di pagi hari, membuat teh herbal, hingga mengenakan jaket bergaya klasik China ramai jadi bagian dari konten anak muda Amerika. Kebiasaan yang selama ini identik dengan gaya hidup masyarakat China itu kini justru sedang naik daun di kalangan Gen Z Amerika.

Fenomena ini dikenal dengan istilah 'Chinamaxxing', sebuah tren yang populer di media sosial, khususnya TikTok. Mengutip dari Forbes, istilah 'Chinamaxxing' menggabungkan kata 'China' dan 'maxxing', yang berarti memaksimalkan atau mengadopsi sesuatu secara penuh.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tren ini membuat para kreator bahkan kerap bercanda bahwa kebiasaan tersebut bisa membuat seseorang 'menjadi Chinese'. Di balik candaan itu, tren ini mencerminkan ketertarikan baru anak muda Barat terhadap budaya dan gaya hidup China.

Tak hanya itu, konten seperti merebus apel untuk dijadikan minuman yang diklaim baik untuk pencernaan juga ditonton jutaan kali dan diikuti banyak kreator lainnya.

Banyak Gen Z mulai merasa lelah dengan budaya hustle, gaya hidup serba cepat, produktif terus-menerus, dan minim istirahat. Sebaliknya, praktik-praktik yang identik dengan budaya China dianggap menawarkan sesuatu yang berbeda, ritme hidup yang lebih pelan, fokus pada keseimbangan, dan perawatan diri.

Kebiasaan seperti minum air hangat atau menjalani rutinitas sederhana dipandang sebagai bentuk preventive wellness, menjaga kesehatan sebelum sakit, bukan setelahnya.

Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat, mengutip dari CNN, Chinamaxxing muncul di tengah perubahan cara pandang anak muda Amerika terhadap gaya hidup mereka sendiri. Jika sebelumnya budaya populer Asia didominasi Korea Selatan atau Jepang, kini perhatian mulai bergeser ke China.

Produk budaya China, mulai dari film, gim, hingga tren kecil di internet, perlahan membentuk ulang persepsi tentang apa yang dianggap keren di kalangan anak muda Barat.

Bukan pertama kali, tapi terasa berbeda

Ketertarikan terhadap China sebenarnya bukan hal baru. Pada 2000-an hingga awal 2010-an, banyak orang asing mulai belajar bahasa Mandarin, serta meningkatnya arus wisata dan migrasi ke China.

Namun dalam satu dekade terakhir, China justru menjadi lebih tertutup dan mandiri, terutama setelah pandemi Covid-19. Hubungan dengan Amerika Serikat juga sempat memanas secara politik.

Meski begitu, ketertarikan anak muda AS terhadap China kini justru muncul bukan karena faktor ekonomi, melainkan karena daya tarik gaya hidup.

Pembukaan kembali China pascapandemi, pelonggaran kebijakan visa, hingga migrasi pengguna media sosial ke platform China seperti Xiaohongshu (RedNote), ikut mendorong tren ini.

Di media sosial, banyak konten tentang China yang viral menampilkan sisi modern dan futuristik. Misalnya, kota-kota seperti Shanghai dan Chongqing dengan gedung pencakar langit, jalan yang terlihat bersih, hingga sistem transportasi canggih.

Video tentang mobil listrik, energi hijau, hingga pertunjukan drone juga ramai menarik perhatian. Gambaran ini menciptakan kesan kehidupan yang lebih tertata, modern, dan efisien, sesuatu yang terasa kontras dengan realitas di Amerika, seperti biaya hidup tinggi maupun infrastruktur yang menua.

(anm/asr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |