CNN Indonesia
Kamis, 19 Mar 2026 19:20 WIB
Ilustrasi. Ada beberapa penyebab mengapa cenderung susah buang air besar (BAB) saat sedang dalam perjalanan. (iStock/Staras)
Jakarta, CNN Indonesia --
Susah buang air besar (BAB) kerap dialami pemudik akibat perubahan rutinitas selama perjalanan jauh.
Kondisi ini sering muncul ketika seseorang berpindah tempat dalam waktu singkat, menghadapi pola makan berbeda, hingga harus beradaptasi dengan jadwal dan lingkungan baru.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski terdengar sepele, gangguan pencernaan seperti ini bisa membuat perjalanan terasa tidak nyaman.
Melansir dari EatingWell, dokter spesialis gastroenterologi, Will Bulsiewicz menyebut sistem pencernaan manusia sangat bergantung pada ritme dan kebiasaan harian, sehingga perubahan kecil saat bepergian dapat memicu gangguan, termasuk sembelit.
Berikut merupakan beberapa alasan mengapa susah buang air besar saat sedang dalam perjalanan.
1. Ritme tubuh terganggu
Salah satu penyebab utama susah BAB saat mudik adalah terganggunya jam biologis tubuh. Dalam kondisi normal, banyak orang memiliki waktu BAB yang relatif teratur, umumnya di pagi hari.
Namun, perjalanan jauh, kurang tidur, hingga perubahan jadwal membuat ritme ini bergeser. Akibatnya, dorongan untuk BAB menjadi tidak muncul seperti biasanya.
Perubahan ini juga kerap terjadi pada pemudik yang menempuh perjalanan lintas waktu atau harus berangkat dini hari.
2. Pola makan berubah drastis
Mudik identik dengan konsumsi makanan yang berbeda dari keseharian. Mulai dari makanan cepat saji selama perjalanan hingga hidangan khas Lebaran yang cenderung tinggi lemak dan rendah serat.
Kondisi ini membuat sistem pencernaan membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Kurangnya asupan serat dari sayur dan buah juga memperlambat pergerakan usus, sehingga feses menjadi lebih sulit dikeluarkan.
3. Kurang minum air
Selama perjalanan, tidak sedikit pemudik yang sengaja mengurangi minum untuk menghindari frekuensi buang air kecil.
Padahal, cairan memiliki peran penting dalam proses pencernaan. Kekurangan cairan membuat tekstur feses menjadi lebih keras dan memicu sembelit.
Bulsiewicz menekankan pentingnya menjaga hidrasi selama bepergian untuk membantu sistem pencernaan tetap bekerja optimal.
4. Minim aktivitas fisik
Perjalanan mudik yang panjang, baik dengan mobil, bus, maupun pesawat, membuat tubuh lebih banyak duduk dalam waktu lama.
Kurangnya aktivitas fisik diketahui dapat memperlambat pergerakan usus. Akibatnya, proses pencernaan tidak berjalan seefektif saat tubuh aktif bergerak.
Karena itu, pemudik disarankan menyempatkan diri untuk berjalan atau melakukan peregangan ringan saat beristirahat.
5. Faktor stres dan lingkungan
Selain faktor fisik, kondisi psikologis juga berpengaruh. Stres akibat kemacetan, kelelahan, atau perjalanan panjang dapat memengaruhi kerja sistem pencernaan.
Di sisi lain, sebagian orang merasa tidak nyaman menggunakan toilet umum saat mudik, sehingga cenderung menahan keinginan BAB. Kebiasaan ini justru memperparah sembelit.
Susah BAB saat mudik umumnya dipicu oleh perubahan rutinitas dan gaya hidup selama perjalanan. Meski sering terjadi, kondisi ini bisa dicegah dengan menjaga pola makan, hidrasi, dan aktivitas tubuh.
Dengan begitu, perjalanan mudik dapat tetap nyaman tanpa terganggu masalah pencernaan
(nga/fef)
Add
as a preferred source on Google

4 hours ago
5
















































