Jakarta, CNN Indonesia --
Sebuah studi terbaru mengungkap potensi tabrakan 2 lubang hitam raksasa pada 100 tahun mendatang.
Para peneliti memanfaatkan data pengamatan teleskop radio selama puluhan tahun untuk meneliti sebuah objek yang sangat terang, yang sebelumnya dianggap sebagai blazar berjarak sekitar 500 juta tahun cahaya dari tata surya kita. Blazar sendiri merupakan inti galaksi yang bersinar, biasanya didorong lubang hitam.
Pengamatan tersebut mengungkap semburan energi tersembunyi yang mengindikasikan bahwa objek sangat terang itu sebenarnya terdiri dari dua lubang hitam yang berada di ambang tabrakan, mungkin kurang dari 100 tahun lagi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami memperkirakan satu lubang hitam (hasil penggabungan) akan tetap ada," kata rekan penulis studi Silke Britzen yang juga seorang astronom di Institut Radio Astronomi Max-Planck, dikutip dari Live Science.
"Saya sangat penasaran untuk mengamati bagaimana 'tarian' ini akan berlanjut," tambahnya.
Penelitian ini diterbitkan pada 27 Maret lalu di jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society.
Blazar dikenal sebagai salah satu objek paling terang di alam semesta. Objek ini diklasifikasikan sebagai inti galaksi aktif atau objek yang secara aktif menyerap materi di pusat galaksi, dan biasanya didorong lubang hitam supermasif.
Blazar umumnya memancarkan semburan radiasi berenergi tinggi ke arah Bumi. Biasanya, lubang hitam di pusat galaksi menjadi sumber semburan ini, tetapi dalam kasus blazar di galaksi Markarian 501, ada sesuatu yang tidak sesuai.
Selama bertahun-tahun astronom telah mengamati orientasi yang berbeda dari jet tersebut menggunakan data teleskop radio, sehingga sulit menentukan apakah inti blazar tersebut benar-benar menampung lubang hitam supermasif.
Untuk menjawab pertanyaan ini, para peneliti menganalisis lebih dari 83 dataset dari Very Long Baseline Array, jaringan internasional yang terdiri dari 10 teleskop radio.
Hasilnya, alih-alih satu jet besar, terdapat juga jet kedua yang melingkar berlawanan arah jarum jam di sekitar pusat blazar. Tim peneliti meyakini bahwa masing-masing jet ini didorong oleh lubang hitam supermasif, masing-masing dengan massa antara 100 juta hingga satu miliar kali massa Matahari.
"Menyadari bahwa [ternyata] ada semburan kedua sungguh luar biasa. Bagi saya, rasanya seperti, begitulah cara kerjanya? Saya sangat terkesima dan takjub - dan ingin memberitahu semua orang tentang penemuan kami," kata Britzen.
Pada Juni 2022, kedua lubang hitam tersebut sejajar sempurna sehingga gravitasi lubang hitam utama membelokkan cahaya yang dipancarkan jet kedua menjadi lingkaran yang hampir sempurna yang dikenal sebagai cincin Einstein.
Berkat fenomena yang disebut lensa gravitasi, penemuan ini menambah bukti lebih lanjut terhadap gagasan bahwa blazar didorong sepasang lubang hitam supermasif.
"Karena semburan-semburan ini mengarah ke arah kita, fenomena cincin Einstein mendukung skenario tersebut," terang Britzen.
Lebih lanjut, kedua lubang hitam tersebut diperkirakan mengorbit satu sama lain searah jarum jam sekitar sekali setiap 121 hari dan terpisah hanya sejauh 250 hingga 540 kali jarak antara Bumi dan Matahari.
Secara bertahap, jarak ini akan semakin mendekat hingga kedua objek tersebut akhirnya bergabung.
Para peneliti berpendapat bahwa ketika lubang hitam yang tak terelakkan ini akhirnya bertabrakan, mereka akan melepaskan gelombang gravitasi yang mungkin lebih kuat daripada yang berasal dari penggabungan lubang hitam yang selama ini pernah diteliti.
Jika demikian, detektor gelombang gravitasi di Bumi akan menangkap sinyal tersebut, memberikan petunjuk baru tentang sifat-sifat lubang hitam tersebut.
(lom/fea)
Add
as a preferred source on Google

3 hours ago
10

















































