Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan memblokade Selat Hormuz tak lama setelah kesepakatan damai dengan Iran gagal tercapai.
Trump mengatakan Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) akan mencegat kapal-kapal yang telah membayar biaya melintas Selat Hormuz kepada Iran.
"Efektif segera, Angkatan Laut Amerika Serikat, yang terbaik di dunia, akan memulai proses MEMBLOKADE setiap dan semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz," tulis Trump di akun Truth Social, Minggu (12/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pada suatu titik, kita akan mencapai kondisi 'SEMUA BOLEH MASUK, SEMUA BOLEH KELUAR', tetapi Iran tidak mengizinkan hal itu terjadi hanya dengan mengatakan, 'mungkin ada ranjau di suatu tempat di luar sana,' yang tidak diketahui siapa pun selain mereka. INI ADALAH PEMERASAN DUNIA," imbuhnya, dengan beberapa huruf ditulis kapital.
Trump juga mengatakan AS akan mencari dan mencegah pelayaran bagi kapal mana pun yang telah membayar biaya kepada Iran. Mereka juga akan mulai membersihkan ranjau dari selat tersebut.
"Tidak seorang pun yang telah membayar biaya ilegal akan mendapat jalur aman di laut lepas. Kami juga akan mulai menghancurkan ranjau yang dipasang Iran di selat tersebut. Siapa pun dari Iran yang menembak kami, atau kapal damai, akan DIHANCURKAN!" pungkasnya.
Perang Iran melawan agresi AS dan Israel berujung penutupan Selat Hormuz, jalur vital yang dilewati 20 persen pengiriman minyak global. Imbasnya, harga energi meroket.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah menyebabkan gejolak ekonomi global. Salah satu syarat utama yang diajukan AS ke Iran dalam perundingan damai adalah agar Teheran mengizinkan jalur pelayaran bebas melalui Selat Hormuz.
Perundingan damai antara AS dengan Iran yang digelar akhir pekan ini di Pakistan ternyata gagal mencapai kata sepakat. Kesepakatan damai yang digelar akhir pekan ini di Pakistan buyar karena terganjal dua masalah utama, yakni isu nuklir dan Selat Hormuz.
Pejabat AS telah menetapkan sejumlah poin utama yang harus dicapai agar negosiasi dianggap berhasil.
Namun setelah berjam-jam pembicaraan hingga dini hari, tim negosiasi AS dan Iran menemui jalan buntu pada beberapa isu krusial, menurut sumber CNN yang mengetahui jalannya perundingan.
Bagi AS, sikap penolakan Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menyerahkan cadangan uranium yang telah diperkaya, menjadi hambatan utama yang tidak bisa ditawar.
Selama dua isu tersebut belum terselesaikan, tuntutan Iran agar AS mencabut sanksi dan mencairkan aset Teheran senilai miliaran dolar yang dibekukan, juga menemui jalan buntu.
Alhasil, kedua pihak menyatakan perundingan panjang itu gagal.
Sejumlah pejabat menilai perbedaan mendasar dalam gaya negosiasi turut menjadi penyebab kebuntuan.
Iran dikenal bersedia menjalani proses negosiasi panjang dan kompleks demi mencapai kesepakatan, sebagaimana yang terjadi pada perjanjian nuklir era Presiden Barack Obama yang memakan waktu sekitar dua tahun.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump dinilai tak sabaran. Ia tidak memiliki keinginan besar untuk menjalani negosiasi yang berlarut-larut.
Trump sebelumnya menyatakan AS dan Iran akan bekerja sama menghilangkan apa yang disebutnya 'debu nuklir', akan tetapi Iran tampak tidak terpengaruh.
Selain nuklir, Selat Hormuz juga menjadi masalah baru. Iran menyatakan tetap membuka jalur tersebut dalam perundingan sebelumnya, tetapi mulai membatasi lalu lintas kapal tanker.
Pembatasan dilakukan setelah AS dan Israel melancarkan serangan provokasi pada 28 Februari Penutupan ini kini memicu gejolak di pasar energi global, serta tekanan politik bagi Trump di dalam negeri.
Para negosiator Iran, yang menyadari posisi tawar tinggi dari Selat Hormuz, menolak memenuhi tuntutan untuk membuka kembali jalur tersebut sebelum tercapai kesepakatan final, kata para pejabat.
(pta)
Add
as a preferred source on Google

5 hours ago
5

















































