Jakarta, CNN Indonesia --
Harga minyak mentah dunia melonjak di tengah memanasnya perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Adapun konflik ini juga memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Harga minyak naik disebut karena Iran memblokade Selat Hormuz usai dikeroyok AS dan Israel. Dengan begitu, kondisi ini ditenggarai akan mengancam ekonomi global, memicu inflasi, hingga mendorong naiknya harga bahan bakar minyak (BBM).
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent sempat menembus US$82,37 per barel atau naik sekitar 13 persen pada Senin (2/3) dan menjadi harga tertinggi sejak Januari 2025.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga sempat mencapai level tertinggi sejak Juni 2025 di level US$75,33 per barel atau naik lebih dari 12 persen.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan stok BBM Indonesia masih aman di tengah memanasnya konflik Timur Tengah.
"Masih cukup 20 hari," kata Bahlil jelang menemui Presiden RI Prabowo Subianto ke Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (2/3).
Bahlil menyampaikan telah menyiapkan langkah antisipasi terkait pasokan minyak dunia yang berpotensi terdampak buntut kejadian itu.
"Karena bagaimanapun kita masih melakukan impor 1 juta barel per day (bpd)," katanya.
Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan pemerintah telah mempunyai nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) terkait suplai minyak dari non-Timur Tengah.
"Pemerintah sudah punya MOU untuk mendapatkan supply dari non Middle East. Misalnya kemarin Pertamina sudah bikin MOU dengan Amerika beberapa, dengan Chevron, dengan Exxon, dan yang lain," kata Airlangga saat ditemui wartawan di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Senin (2/3).
Selain itu, Airlangga juga menyebutkan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi juga akan ikut naik imbas perang Iran dengan AS dan Israel.
"Otomatis akan naik sama seperti saat perang Ukraina kan naik. Tetapi kan kali ini supply dari Amerika juga akan meningkat dan OPEC juga meningkatkan kapasitasnya," pungkasnya.
Lantas, bagaimana seharusnya kebijakan energi RI dalam mengantisipasi dampak naiknya harga minyak?
Pengamat Ekonomi Universitas Andalas Syafruddin Karimi menyampaikan pemerintah perlu mengubah fokus kebijakan energi dari menahan harga untuk semua orang menjadi melindungi daya beli kelompok rentan ketika harga minyak dunia menembus US$80 per barel. Menurutnya, harga minyak dunia yang tinggi akan memperbesar tagihan impor energi, menekan neraca eksternal, dan meningkatkan risiko inflasi biaya transportasi.
Dengan begitu, Syafruddin mengungkapkan pemerintah perlu mengurangi subsidi yang bocor ke kelompok mampu dan memindahkan anggaran ke bantuan tunai terarah, subsidi transportasi publik, serta dukungan biaya energi untuk UMKM dan logistik.

3 hours ago
2















































