Laju Kencang Ekonomi China Masih Dibayang-bayang Krisis Energi Global

15 hours ago 13

Jakarta, CNN Indonesia --

Ekonomi China menguat pada kuartal I-2026 di tengah konflik Timur Tengah, itu berkat ekspor yang kuat dan dukungan kebijakan.

Namun, secara bersamaan momentum tersebut mulai mengkhawatirkan lantaran perang mendorong kenaikan biaya energi, mendinginkan permintaan global, dan mengancam akan menekan margin laba perusahaan yang sudah tipis.

Ekonomi China tumbuh sebesar 5 persen pada kuartal I-2026 dibandingkan tahun sebelumnya, menurut data Biro Statistik Nasional pada Kamis (16/4). Angka ini melampaui perkiraan analis dalam jajak pendapat Reuters sebesar 4,8 persen dan dibandingkan dengan level terendah tiga tahun terakhir sebesar 4,5 persen pada kuartal IV, mengutip Reuters Kamis (16/4).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, produksi industri naik sebesar 5,7 persen pada Maret dibandingkan tahun sebelumnya, melambat dari pertumbuhan 6,3 persen pada Januari-Februari.

Sementara penjualan ritel atau indikator konsumsi tumbuh sebesar 1,7 persen pada bulan lalu, turun dari kenaikan 2,8 persen pada Januari-Februari.

Sebagai importir energi terbesar dunia sekaligus negara dengan ketergantungan tinggi pada ekspor, China rentan terhadap gejolak harga minyak. Oleh karena itu, kondisi tersebut mulai menekan kinerja perdagangan, meningkatkan biaya produksi industri, serta memperburuk prospek ekonomi sepanjang tahun ini.

[Gambas:Youtube]

"Ekspor Tiongkok tetap menjadi mesin pertumbuhan utama pada tahun 2026, tetapi guncangan energi baru-baru ini telah mengalihkan fokus ke arah keberlanjutan permintaan eksternal," kata ekonom Xinquan Chen di Goldman Sachs, dalam sebuah catatan menjelang rilis data tersebut.

"Meskipun produksi China relatif tangguh, mitra dagang utamanya, terutama negara-negara pasar berkembang berpenghasilan rendah yang menyumbang hampir 40 persen dari ekspor membuat semakin terpapar risiko stagflasi," tambahnya.

China telah berjanji untuk meningkatkan pengeluaran pada infrastruktur besar dan layanan publik guna membantu mencapai target pertumbuhan 2026. Adapun pengeluaran fiskal naik 3,6 persen pada Januari-Februari, meningkat dari kenaikan 1 persen pada 2025 dan menambah tanda-tanda dukungan fiskal yang lebih kuat.

Di samping itu, pemerintah telah menetapkan defisit anggaran sekitar 4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) untuk tahun 2026 dan menyiapkan penerbitan obligasi dalam jumlah besar untuk mendukung pertumbuhan. 

Sementara itu, bank sentral China telah berjanji untuk mempertahankan kebijakan akomodatif meskipun ruang untuk memotong suku bunga terbatas karena inflasi yang mulai meningkat.

Goldman Sachs memperkirakan pertumbuhan PDB kuartal pertama sebesar 4,7 persen. Ekspor China hanya tumbuh 2,5 persen pada Maret secara tahunan, melambat tajam dari 21,8 persen pada Januari-Februari. Hal ini karena konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan biaya energi dan transportasi serta membebani permintaan global, meskipun para analis mengingatkan bahwa angka tersebut juga terdistorsi oleh faktor musiman.

Untuk periode Januari-Maret, ekspor masih naik 14,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya, jauh di atas pertumbuhan tahunan sebesar 5,5 persen pada 2025.

Analis Citi mempertahankan perkiraan pertumbuhan PDB sebesar 5 persen untuk kuartal pertama, dengan mengutip kinerja ekspor yang solid.

"Meskipun demikian, kami semakin waspada terhadap dampak permintaan sekunder jika konflik ini berlanjut," kata mereka dalam sebuah catatan.

Lebih lanjut, harga pabrik di China naik pada bulan Maret untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun. Hal ini menandakan tekanan biaya yang didorong oleh energi mulai merembes ke dalam ekonomi negara tersebut dan mengancam margin perusahaan yang sudah tipis.

Secara kuartalan, ekonomi tumbuh 1,3 persen pada Januari-Maret, sesuai dengan survei, dan dibandingkan dengan pertumbuhan 1,2 persen pada Oktober-Desember 2025.

Pertumbuhan investasi aset tetap melambat menjadi 1,7 persen pada kuartal pertama dari 1,8 persen pada Januari-Februari seiring investasi infrastruktur melonjak 11,4 persen year on year (yoy).

(fln/ins)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |