Jakarta, CNN Indonesia --
Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut mengincar ketua parlemen Bagher Ghaibaf untuk menjadi pemimpin Iran di masa depan.
Dua sumber yang familiar dengan hal tersebut mengatakan beberapa pejabat Gedung Putih memandang Ghalibaf sebagai mitra yang bisa diandalkan. Ia dianggap sosok yang bisa diajak negosiasi di masa depan usai serangan brutal AS-Israel ke Iran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dia adalah pilihan yang menarik," kata salah satu sumber, dikutip Politico.
Namun, kedua sumber itu mengatakan Gedung Putih belum siap untuk berkomitmen ke satu orang. AS berharap bisa menguji beberapa kandidat sambil mencari orang yang bersedia membuat kesepakatan.
"Dia salah satu yang tertinggi. Tapi kita harus menguji mereka, dan kita tidak bisa terburu-buru," imbuh sumber itu.
Media AS juga melaporkan Trump ingin Ghalibaf jadi pemimpin tertinggi Iran di masa depan.
"Pemerintahan Trump diam-diam mempertimbangkan ketua parlemen Iran sebagai mitra potensial - dan bahkan pemimpin masa depan," demikian laporan Politico seperti dikutip Reuters Selasa (24/3).
Di kesempatan terpisah, Trump mengklaim telah melakukan pembicaraan produktif dengan para pejabat Iran.
Dia mengatakan pembicaraan itu dilakukan dengan orang penting tapi bukan pemimpin tertinggi Iran. Teheran membantah klaim Trump.
Sejumlah media AS dan Israel melaporkan bahwa orang yang dihubungi pemerintah Trump adalah Ghalibaf. Namun, dia membantah ada negosiasi dengan AS yang melibatkan dirinya.
Ghalibaf juga menyebut klaim negosiasi dengan Iran itu sebagai "berita palsu" yang untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak, serta menghindari jebakan AS-Israel.
"Tidak ada negosiasi yang dilakukan dengan AS, dan berita palsu digunakan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak serta menghindari jebakan yang menjebak AS dan Israel," tulis dia.
(isa/rds)
Add
as a preferred source on Google

2 hours ago
4

















































