Jakarta, CNN Indonesia --
Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) memberikan pernyataan resmi terkait serangan terhadap tentara Prancis yang bertugas dalam misi Pasukan Penjaga Perdamaian di Lebanon (UNIFIL) pada Sabtu (18/4) waktu setempat.
Melalui akun resmi X @Kemlu_RI, pada Sabtu pukul 11.01 WIB, Kemlu menyampaikan belasungkawa dan simpati untuk pemerintah serta rakyat Prancis atas tewasnya seorang tentara dan luka serius yang dialami beberapa lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Serangan tersebut, yang terjadi selama gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon, tidak dapat diterima. Semua pihak harus menahan diri secara maksimal, menghormati kedaulatan negara, dan menjunjung tinggi hukum internasional, termasuk hukum humaniter internasional," demikian terjemahan pernyataan Kemlu melalui akun resmi X.
Kemlu RI kembali menegaskan, negosiasi dan gencatan senjata yang sedang berlangsung harus dihormati secara penuh.
Tindakan kekerasan bisa berisiko meningkatkan eskalasi lebih lanjut dan membahayakan para tentara penjaga perdamaian di lapangan.
Kemlu RI menyatakan sangat prihatin atas serangan yang terus berlanjut terhadap UNIFIL. Adapun tentara penjaga perdamaian tidak boleh pernah menjadi sasaran, karena tindakan tersebut termasuk sebagai kejahatan perang.
"Indonesia berdiri dalam solidaritas dengan Prancis dan negara-negara penyumbang pasukan lainnya. Kami menegaskan kembali komitmen bersama kami untuk memperkuat perlindungan penjaga perdamaian PBB, sebagaimana tercermin dalam Pernyataan Bersama tentang Keselamatan dan Keamanan Personel PBB pada 9 April 2026," demikian pernyataan Kemlu RI lagi.
Seperti diberitakan sebelumnya, seorang tentara Prancis yang tergabung dalam UNIFIL tewas akibat sebuah serangan pada Sabtu waktu setempat di Lebanon.
Menurut UNIFIL, tentara tersebut tewas akibat tembakan senjata ringan langsung di Desa Ghandouriyeh, Lebanon selatan. Serangan tersebut juga menyebabkan tiga personel UNIFIL lainnya terluka, dua di antaranya luka parah.
Pemerintah Prancis menyatakan kemungkinan besar serangan tersebut dilakukan oleh Hizbullah, milisi proksi Iran. Presiden Prancis Emmanuel Macron pun mengutuk keras kejadian tersebut.
Adapun UNIFIL mengatakan, penilaian awal menunjukkan tembakan berasal dari aktor non-negara, diduga Hizbullah, dan penyelidikan telah dilakukan atas apa yang disebutnya sebagai "serangan yang disengaja."
Macron juga mengatakan bukti sejauh ini mengarah pada kelompok bersenjata yang didukung Iran. Ia mendesak otoritas Lebanon untuk bertindak terhadap mereka yang bertanggung jawab.
Kematian tentara Prancis menambah korban tewas dari pasukan internasional dalam misi UNIFIL. Sebelumnya, tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia tewas akibat serangan dari Israel ke pos jaga di Lebanon selatan.
(rti)
Add
as a preferred source on Google

7 hours ago
9
















































