CNN Indonesia
Jumat, 15 Mei 2026 13:20 WIB
Ilustrasi. Peneliti asal China, Hongmei Wang, bakal mempelajari efek dari memperpendek durasi jarak menstruasi terhadap kesuburan perempuan. (iStockphoto/bymuratdeniz)
Jakarta, CNN Indonesia --
Peneliti asal China, Hongmei Wang, tengah menyelidiki gagasan yang cukup menarik dalam dunia reproduksi. Penelitian ini akan mempelajari soal menstruasi yang dibuat dengan jarak lebih panjang, misalnya sekali dalam tiga bulan.
Wang ingin mempelajari, apakah jarak menstruasi seperti di atas bisa membantu memperpanjang masa subur perempuan atau tidak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip dari El PAIS, penelitian ini berangkat dari pertanyaan besar: jikafrekuensi menstruasi yang dikurangi, apakah fungsi reproduksi perempuan bisa bertahan lebih lama?
Wang sendiri merupakan profesor di Institute of Zoology, Chinese Academy of Sciences. Bidang risetnya memang dekat dengan isu ini, mulai dari biologi reproduksi, perkembangan awal manusia, hingga penuaan ovarium.Karena itu, gagasan yang ia teliti menarik untuk diikuti.
Kendati demikian, tetap penting dipahami bahwa riset ini masih berada dalam tahap penyelidikan ilmiah, bukan rekomendasi medis. Hingga kini, belum ada bukti klinis kuat yang menyatakan bahwa haid tiga bulan sekali otomatis dapat memperpanjang masa subur perempuan.
Dalam dunia medis, menstruasi memang bisa dibuat lebih jarang melalui metode menstrual suppression atau penekanan menstruasi. Mengutip dari American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), metode ini bisa dilakukan dengan terapi hormonal tertentu untuk tujuan medis, seperti nyeri haid berat, endometriosis, atau kondisi lain yang membuat haid perlu dikendalikan.
Tidak ada penyebutan bahwa metode tersebut terbukti bisa menghemat sel telur atau memperpanjang masa subur.Cadangan ovarium memang menurun seiring usia, tetapi prosesnya tidak sesederhana haid bulanan membuat sel telur cepat habis.
American Society for Reproductive Medicine (ASRM) juga menjelaskan bahwa penuaan reproduksi berkaitan dengan penurunan jumlah oosit atau cadangan ovarium melalui proses ovulasi dan atresia folikel, serta dipengaruhi usia.
Hal tersebut menunjukkan banyak bakal sel telur berkurang secara alami dari waktu ke waktu, bahkan tidak semuanya berkaitan langsung dengan menstruasi yang datang setiap bulan.
Karena itu, penelitian Wang menarik untuk diikuti karena membuka ruang baru untuk memahami penuaan ovarium dan masa reproduksi perempuan. Namun untuk saat ini, gagasan haid tiga bulan sekali sebagai cara memperpanjang masa subur masih perlu dibuktikan lewat penelitian klinis yang lebih kuat pada manusia.
(anm/asr)
Add
as a preferred source on Google

5 hours ago
1

















































