Cerita Wanita yang Miliki 10 Tumor Otak, Awalnya Cuma Sering Kesemutan

4 hours ago 3

CNN Indonesia

Kamis, 02 Apr 2026 23:30 WIB

Seorang wanita asal Inggris didiagnosis memiliki 10 tumor otak usai mengalami kesemutan dan sensasi hot flashes selama bertahun-tahun. Ilustrasi. Seorang wanita asal Inggris didiagnosis memiliki 10 tumor otak usai mengalami kesemutan dan sensasi hot flashes selama bertahun-tahun. (iStockphoto/Firstsignal)

Jakarta, CNN Indonesia --

Tak ada yang menyangka jika gejala kesemutan bisa menandakan tumor otak. Bagaimana bisa?

Hal ini dialami oleh seorang wanita asal Yorkshire, Inggris, Kerry Brown (54). Ia mengalami gejala kesemutan yang disertai sensasi 'hot flashes' gejala menopause selama bertahun-tahun. Namun, ia tak menyadari jika gejala tersebut jadi penanda tumor otak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengutip People, gejala-gejala tersebut mulai dialami Brown sejak 2017 lalu. Mulanya, ia menganggapnya hanya sebagai perubahan hormonal.

Gejala terus memburuk hingga dua tahun berikutnya. Ia juga mengalami kelelahan ekstrem dan mulai bicara cadel.

"Saya pikir itu hanya menopause, tapi kemudian saya menjadi pucat, mulai bicara terbata-bata, dan merasa sangat lelah. Saya tak berpikir itu sesuatu yang serius," ujarnya.

Usai mengalami masalah penglihatan, ia memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter.

Hasil pemeriksaan dengan dokter mata, Brown mengalami pembengkakan di belakang mata. Ia pun diminta untuk segera melakukan pemeriksaan lanjutan.

Hasilnya, dokter menemukan empat tumor otak. Sensasi 'hot flashes' yang dia alami disebut dokter sebagai kejang gejala tumor otak.

Dua tumornya berkurang lebih dari dua sentimeter dan perlu diangkat melalui operasi. Namun, selama operasi, dokter justru menemukan jumlah tumor otak yang lebih banyak lagi.

"Saat saya bangun setelah operasi, mereka [dokter] memberi tahu saya bahwa mereka menemukan 10 tumor," ujarnya.

Brown memiliki tumor jenis meningioma. Mengutip laman Mayo Clinic, meningioma adalah tumor yang bermula di selaput otak. Selaput ini menutupi otak dan sumsum tulang belakang.

Sebagian besar meningioma tumbuh perlahan. Beberapa tidak menimbulkan gejala selama bertahun-tahun. Namun saat ukurannya membesar, hal itu dapat menyebabkan kondisi yang serius.

Kendati demikian, sekitar 80-85 persen kasus meningioma bersifat jinak. Artinya, tumor yang tersebar tidak bersifat kanker.

Gejala meningioma sendiri secara umum meliputi:

- masalah penglihatan,
- mati rasa atau kesemutan,
- sakit kepala yang berat di pagi hari,
- gangguan pendengaran,
- anosmia atau kehilangan indera penciuman,
- kejang,
- mati rasa di lengan atau kaki pada satu sisi tubuh.

(asr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |