Jakarta, CNN Indonesia --
Pemerintah Amerika Serikat memulai kerja sama operasi militer dengan Ekuador, untuk memerangi "teroris" di negara Amerika Selatan tersebut.
Pada Rabu (4/5), Komando Selatan AS yang mengawasi operasi di Amerika Tengah dan Selatan, mengumumkan bahwa sebuah upaya bersama telah dimulai di Ekuador.
"Pada tanggal 3 Maret, pasukan militer Ekuador dan AS melancarkan operasi terhadap Organisasi Teroris yang Ditunjuk di Ekuador," kata Jenderal Francis Donovan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Operasi ini merupakan contoh kuat dari komitmen para mitra di Amerika Latin dan Karibia untuk memerangi momok narkoterorisme," imbuhnya, dikutip Al Jazeera.
Kerja sama militer ini disebut menjadi bagian dari dorongan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap jaringan kriminal dan kartel narkoba di Amerika Latin.
Lingkup operasi pasukan AS di Ekuador belum diketahui. Namun beberapa media menyebut sejauh ini operasi tersebut terbatas pada dukungan pasukan Ekuador lewat logistik dan sumber intelijen.
"Bersama-sama, kita mengambil tindakan tegas untuk menghadapi teroris narkoba yang telah lama menebar teror, kekerasan, dan korupsi kepada warga di seluruh belahan bumi," kata Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt.
Sejak menjabat untuk masa jabatan kedua sebagai Presiden AS, Trump mengeklaim telah memerangi narkoba dengan menargetkan kapal-kapal yang diduga membawa narkoba menuju AS.
Setidaknya 44 serangan udara telah dilakukan terhadap kapal-kapal yang diduga terlibat penyelundupan narkoba dan kapal-kapal maritim lainnya di Laut Karibia dan Samudra Pasifik bagian timur.
Akibatnya tercatat sekitar 150 orang tewas dan belum ada dakwaan yang diumumkan ke publik.
Pemerintahan Trump juga melancarkan aksi militer di wilayah Venezuela, pertama pada akhir Desember dan kedua pada 3 Januari. Serangan kedua AS berujung pada penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Operasi militer terbaru AS di Ekuador juga dilakukan saat Washington bekerja sama dengan Israel membombardir Iran sejak akhir Februari lalu.
Serangan itu terjadi saat negosiasi nuklir tahap tiga antara Iran dan AS berakhir tanpa kesepakatan.
AS dan Israel menyerang Iran dengan dalih sebagai serangan pendahuluan. Imbas serangan itu, Iran juga membalas dengan menargetkan aset-aset yang terkait dengan AS di negara-negara Teluk, hingga penutupan jalur perairan di Selat Hormuz.
(dna)

4 hours ago
5















































