CNN Indonesia
Rabu, 01 Apr 2026 20:00 WIB
Ilustrasi. Kenali apa itu breath holding spell, yakni respons refleks anak-anak yang menahan napas, dan bagaimana mengatasinya. (iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --
Anak yang tiba-tiba menahan napas hingga wajah berubah pucat atau kebiruan kerap membuat orang tua panik. Kondisi ini dikenal sebagai breath holding spell, yaitu respons refleks pada anak yang biasanya dipicu oleh emosi kuat seperti marah, takut, atau frustrasi.
Meski tampak mengkhawatirkan, kondisi ini tergolong umum terjadi pada anak usia dini dan dalam banyak kasus tidak berbahaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mari kenali lebih lanjut mengenai breath holding spell dan ketahui bagaimana cara orang tua mengatasi hal ini ketika terjadi pada Si Kecil.
Apa itu breath holding spell?
Menurut Medical News Today, breath holding spell adalah kondisi ketika anak menahan napas secara tidak sadar, biasanya setelah menangis atau mengalami emosi intens. Dalam beberapa kasus, anak bisa tampak kaku atau lemas, bahkan kehilangan kesadaran dalam waktu singkat.
Breath holding spell ini umumnya berlangsung kurang dari satu menit, dan anak akan kembali bernapas normal dengan sendirinya. Meski dramatis, kondisi ini bukan tanda gangguan serius.
Kondisi ini paling sering terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 6 tahun. Banyak pula anak yang mengalaminya pertama kali sebelum usia 18 bulan.
Breath holding spell bukan tindakan yang disengaja. Anak tidak menahan napas untuk mencari perhatian, tetapi sebagai respons refleks tubuh terhadap emosi atau rangsangan tertentu. Beberapa pemicu yang umum meliputi:
- Tantrum atau ledakan emosi
- Rasa marah atau frustrasi
- Ketakutan
- Nyeri atau kejadian mengejutkan
- Teguran dari orang tua
Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan kondisi ini juga dapat berkaitan dengan faktor lain seperti kekurangan zat besi atau gangguan pada sistem saraf otonom, yang mengatur fungsi otomatis tubuh seperti detak jantung dan pernapasan.
Mengutip dari Nemours KidsHealth, terdapat dua jenis utama breath holding spell yang perlu dikenali orang tua:
1. Tipe sianotik (kebiruan)
Jenis ini paling umum terjadi dan biasanya dipicu oleh kemarahan atau frustrasi. Anak akan menangis, lalu mengembuskan napas dan menahannya hingga wajah, terutama area bibir, tampak kebiruan. Dalam beberapa kasus, anak bisa kehilangan kesadaran sesaat.
2. Tipe pallid (pucat)
Jenis ini lebih jarang terjadi dan biasanya dipicu oleh rasa kaget atau nyeri ringan, misalnya saat terjatuh.
Anak dapat tiba-tiba menjadi pucat, kehilangan kesadaran, dan tubuh tampak kaku. Kondisi ini sering disalahartikan sebagai kejang.
Cara mengatasi breath holding spell pada anak
Saat anak mengalami breath holding spell, hal terpenting adalah tetap tenang. Reaksi panik justru dapat memperburuk situasi.
Orang tua dan pengasuh harus menanggapi anak yang mengalami henti napas dengan cara yang tepat. Berikut langkah yang disarankan:
- Baringkan anak dalam posisi miring untuk mencegah cedera
- Jauhkan benda keras atau berbahaya di sekitarnya
- Tunggu hingga episode berlalu (biasanya kurang dari 1 menit)
- Tetap berada di dekat anak untuk memastikan kondisi aman
- Setelah sadar, berikan ketenangan
Sebaliknya, ada beberapa hal yang sebaiknya dihindari ketika anak sedang mengalami breath holding spell:
- Mengguncang anak
- Menyiram air atau membangunkan secara paksa
- Memarahi anak
- Memberikan reaksi berlebihan
Seiring pertumbuhan, frekuensi breath holding spell biasanya akan berkurang dan menghilang dengan sendirinya. Pada sebagian kecil kasus, anak yang pernah mengalami kondisi ini mungkin lebih rentan pingsan saat remaja, tetapi tidak selalu berlanjut.
Meski tampak menakutkan, breath holding spell merupakan bagian dari perkembangan anak yang umumnya tidak berbahaya. Pemahaman yang tepat dan respons yang tenang dari orang tua menjadi kunci dalam menghadapi kondisi ini.
(nga/rti)
Add
as a preferred source on Google

3 hours ago
6

















































