Ahli: Label Nutri-Level Bisa Efektif tapi Tak Cukup Tanpa Edukasi

4 hours ago 5

CNN Indonesia

Rabu, 08 Apr 2026 13:15 WIB

Efektivitas penerapan label Nutri-level di kemasan makanan sangat bergantung pada edukasi yang memadai kepada masyarakat. Ilustrasi. Efektivitas penerapan label Nutri-level di kemasan makanan sangat bergantung pada edukasi yang memadai kepada masyarakat. (iStockphoto/Ridofranz)

Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah berencana menerapkan sistem pelabelan gizi baru bernama 'Nutri-level' di bagian depan kemasan makanan dan minuman.

Lewat label tersebut, konsumen cukup melihat warna dan huruf untuk mengetahui apakah suatu produk tergolong sehat atau perlu dibatasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

BPOM menyampaikan bahwa kebijakan ini bertujuan memudahkan masyarakat memahami kualitas gizi produk tanpa harus membaca tabel yang rumit.

Secara konsep, 'Nutri-Level' mengelompokkan produk ke dalam empat kategori berdasarkan kandungan gula, garam, dan lemak (GGL). Mulai dari kategori A (hijau tua) dengan kandungan paling rendah, hingga kategori D (merah) yang perlu dibatasi konsumsinya.

Namun, di balik konsep yang terlihat sederhana, muncul pertanyaan, apakah label warna benar-benar cukup untuk mengubah kebiasaan makan?

Dokter spesialis gizi Johanes Chandrawinata menilai, secara prinsip, Nutri-Level memang bisa menjadi alat bantu yang cukup efektif.

"Label Nutri-level dicantumkan untuk membantu masyarakat memilih makanan dan minuman yang lebih sehat. Selain itu, produsen juga akan berusaha agar produknya tidak mendapat label merah dengan menurunkan kadar lemak, gula, garam," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (8/4).

Menurutnya, dampak kebijakan ini tidak hanya dirasakan konsumen, tetapi juga mendorong industri pangan untuk beradaptasi dan menghasilkan produk yang lebih sehat.


Perlu edukasi agar tak salah tafsir

Meski begitu, Johanes menekankan bahwa efektivitasnya sangat bergantung pada edukasi yang memadai agar masyarakat mampu memahami dan memilih jenis makanan yang dikonsumsi.

"Penerapan Nutri-level pada produk makanan dan minuman harus disertai kampanye nasional tentang pentingnya menurunkan asupan gula, garam, dan lemak untuk menurunkan angka kejadian berbagai jenis penyakit," katanya.

Tanpa edukasi yang masif, label ini berisiko hanya menjadi informasi tambahan yang diabaikan, terutama di tengah kebiasaan masyarakat yang belum terbiasa membaca detail kandungan gizi.

Salah satu kekhawatiran yang muncul adalah kemungkinan masyarakat salah menafsirkan label. Misalnya, produk dengan label hijau dianggap sepenuhnya aman dan bisa dikonsumsi tanpa batas. Ia mengakui bahwa, risiko ini memang ada, meski tidak terlalu besar.

"Risiko masyarakat mengonsumsi berlebihan makanan dan minuman kategori hijau mungkin dapat terjadi. Tapi tentunya sedikit yang berkategori hijau, dan kebanyakan juga kurang disukai masyarakat," ujarnya.

Ia mencontohkan makanan seperti beras cokelat atau beras hitam yang secara gizi lebih baik tapi belum tentu populer di masyarakat.

Di sisi lain, ia menilai pilihan makanan masyarakat masih sangat dipengaruhi oleh selera.Makanan dengan rasa manis, gurih, dan kuat justru lebih sering ditemukan pada produk dengan label kuning atau merah sehingga tetap lebih diminati.


Tak cukup lihat warna, tetap perlu baca label

Johanes juga mengingatkan bahwa warna pada Nutri-level seharusnya menjadi panduan awal, bukan satu-satunya acuan.

"Edukasi tambahan tidak hanya dari melihat warna label saja, tentu akan sangat bagus bila masyarakat mulai membaca label informasi gizi dan juga kandungan makanan kemasan," ujarnya.

Ia menekankan pentingnya akurasi informasi yang tercantum pada kemasan, yang menjadi tanggung jawab BPOM. Jika informasi tidak tepat, hal ini dapat merugikan konsumen.

Menurutnya, di sejumlah negara, klaim pada kemasan makanan juga diatur ketat dan tidak boleh menyesatkan. Karena itu, edukasi publik menjadi kunci agar masyarakat tidak hanya melihat warna, tetapi benar-benar memahami isi produk yang dikonsumsi.

Label Nutri-level bukan solusi tunggal, sistem ini bisa jadi langkah awal untuk membantu masyarakat lebih sadar, tapi tetap perlu didukung perubahan gaya hidup secara menyeluruh.

Mulai dari pola makan, aktivitas fisik, hingga kebiasaan sehari-hari.Kolaborasi dengan berbagai institusi kesehatan seperti Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PDGKI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), hingga yayasan kesehatan juga dinilai penting untuk memperkuat edukasi publik.

Dengan begitu, label warna tidak hanya jadi informasi visual di kemasan, tapi benar-benar dipahami dan digunakan sebagai panduan.

Label Nutri-Level mungkin bisa jadi alarm sederhana bagi konsumen. Pilihan tetap ada di tangan masing-masing mau sekadar melihat warna, atau benar-benar memahami apa yang dikonsumsi.

(anm/fef)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |