CNN Indonesia
Sabtu, 28 Feb 2026 07:20 WIB
Ilustrasi. Dalam psikologis, ada alasan kenapa seseorang mudah memangis. (iStock/M Stock)
Jakarta, CNN Indonesia --
Air mata kerap dianggap sebagai simbol kelemahan. Kepribadian orang yang mudah menangis sering langsung dikaitkan dengan ketidakmampuan mengendalikan emosi.
Padahal, dari sisi psikologis, tangisan tidak selalu lahir dari rapuhnya mental.
Dalam banyak kasus, air mata justru menandakan sistem emosi yang bekerja lebih peka dan responsif. Orang yang mudah menangis sering kali memiliki sensitivitas tinggi terhadap suasana, detail kecil, dan dinamika perasaan di sekitarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meneteskan air mata saat menonton film, berdebat, atau melihat orang lain bersedih bukan berarti lemah. Bisa jadi, mereka memiliki kedalaman emosi yang berbeda.
Berikut penjelasan psikologis tentang kepribadian orang yang mudah menangis, melansir berbagai sumber:
1. Kedalaman emosi dan empati tinggi
Kepribadian orang yang mudah menangis sering berkaitan dengan empati yang kuat. Mereka tidak hanya memahami perasaan orang lain, tetapi juga ikut merasakannya secara personal.
Saat orang lain sedih, respons emosional dapat muncul secara spontan. Lagu, cerita, bahkan adegan sederhana terasa sangat menyentuh karena pengalaman tersebut tidak sekadar dilihat, melainkan benar-benar dihayati.
Bagi sebagian orang, menangis juga menjadi mekanisme regulasi emosi. Ketika marah, stres, atau terharu, air mata membantu menurunkan ketegangan batin. Tangisan bukan semata tanda kesedihan, melainkan cara tubuh memproses emosi.
2. Sensitivitas biologis dan sistem saraf
Sebagian individu memiliki sistem saraf yang lebih reaktif terhadap rangsangan. Suara bising, cahaya terang, atau suasana ramai bisa terasa jauh lebih melelahkan dibandingkan orang lain.
Ketika tubuh merasa kewalahan, menangis menjadi cara alami untuk melepaskan tekanan. Faktor hormon pun turut berperan dalam respons emosional. Perbedaan kadar hormon tertentu membuat sebagian orang lebih mudah mengeluarkan air mata.
Artinya, kecenderungan menangis tidak sepenuhnya soal kemauan atau kontrol diri.
Pada tipe ini, emosi kerap terasa secara fisik. Rasa sedih bisa menekan dada, kecemasan terasa di perut, dan frustrasi mengganjal di tenggorokan. Karena hadir secara fisik, pelepasannya pun sering berbentuk tangisan.
3. Pengaruh pola asuh dan pengalaman hidup
Lingkungan masa kecil turut membentuk cara seseorang mengekspresikan perasaan. Jika menangis dianggap sebagai kelemahan, emosi bisa ditekan dan tidak terselesaikan.
Di masa dewasa, perasaan tersebut dapat muncul lebih mudah dan terasa lebih intens.
Pengalaman trauma atau kehilangan juga dapat meningkatkan sensitivitas emosional. Peristiwa kecil di masa kini bisa memicu luka lama yang belum sepenuhnya pulih. Respons yang tampak berlebihan sering kali memiliki akar yang lebih dalam.
Kebiasaan memendam emosi pun memperbesar kemungkinan ledakan tangisan. Ketika tekanan terus ditahan, air mata dapat muncul tiba-tiba sebagai akumulasi dari banyak hal yang tidak pernah terungkap.
4. Kelelahan emosional dan kondisi psikologis
Kelelahan fisik maupun mental menurunkan ambang kontrol emosi. Saat seseorang mengalami burnout, hal kecil pun bisa terasa sangat berat. Tangisan menjadi sinyal bahwa tubuh dan pikiran membutuhkan jeda.
Kondisi seperti kecemasan atau depresi juga memengaruhi regulasi emosi. Sistem saraf menjadi lebih mudah terpicu sehingga respons emosional terasa lebih intens.
Dalam situasi ini, air mata sering kali bukan tentang satu kejadian saja, melainkan akumulasi beban yang sudah lama dipendam.
Ingat, kepribadian orang yang mudah menangis bukanlah kekurangan yang harus disembunyikan. Ia merupakan perpaduan antara sensitivitas biologis, kedalaman emosi, serta pengalaman hidup.
Alih-alih menghakimi, memahami makna di balik air mata bisa menjadi langkah awal untuk lebih berempati-baik pada diri sendiri maupun orang lain.
(han/tis)

4 hours ago
4
















































